Lahan Sempit Bukan Halangan, Pemprov Bengkulu Dorong Urban Farming Jadi Solusi Pangan dan Penghasilan

- Jurnalis

Rabu, 15 April 2026 - 19:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SAMPAIKAN; Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Bengkulu, Sri Herlin Despita, mengatakan Lahan Sempit Bukan Halangan, Pemprov Bengkulu Dorong Urban Farming Jadi Solusi Pangan dan Penghasilan (Rabu-19-04-2026)--FOTO: Handi//MBG.

SAMPAIKAN; Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Bengkulu, Sri Herlin Despita, mengatakan Lahan Sempit Bukan Halangan, Pemprov Bengkulu Dorong Urban Farming Jadi Solusi Pangan dan Penghasilan (Rabu-19-04-2026)--FOTO: Handi//MBG.

NARASIDEMOKRASI – Di tengah keterbatasan lahan di wilayah perkotaan, Pemerintah Provinsi Bengkulu terus mendorong masyarakat untuk beralih ke konsep urban farming atau pertanian perkotaan. Program ini dinilai menjadi solusi praktis untuk memenuhi kebutuhan pangan sekaligus membuka peluang tambahan penghasilan.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Bengkulu, Sri Herlin Despita, mengatakan urban farming sangat cocok diterapkan di lingkungan masyarakat saat ini, terutama bagi warga yang tidak memiliki lahan luas.

“Urban farming ini solusi nyata. Walaupun lahan terbatas, masyarakat tetap bisa menanam dan memenuhi kebutuhan pangan sendiri,” ujar Sri, Rabu (15/04/2026).

Menurutnya, masyarakat kini mulai memanfaatkan berbagai metode sederhana dalam bercocok tanam. Mulai dari penggunaan pot, tanaman buah dalam pot (tabulampot), hingga sistem vertikal yang dapat memaksimalkan ruang sempit di rumah.

Baca Juga :  Belajar dari Kasus SPAM Kobema, Pemprov Bengkulu Kini Ketat Bayar Proyek

“Tidak harus punya lahan luas. Pekarangan kecil, bahkan dinding rumah bisa dimanfaatkan untuk menanam,” jelasnya.

Beragam jenis tanaman dapat dibudidayakan melalui urban farming. Di antaranya cabai, sayuran, hingga tanaman obat keluarga (TOGA) yang relatif mudah dirawat dan memiliki nilai manfaat tinggi.

Selain membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, urban farming juga dinilai mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pasar, terutama saat harga bahan pangan melonjak.

“Kalau masyarakat sudah menanam sendiri, mereka tidak terlalu terdampak ketika harga cabai atau sayur naik. Ini bagian dari kemandirian pangan,” kata Sri.

Tak hanya tanaman, konsep urban farming juga bisa dikembangkan dengan memadukan peternakan skala kecil, seperti ayam petelur. Kombinasi ini dinilai mampu meningkatkan nilai ekonomi bagi masyarakat.

“Kalau dipadukan dengan ternak ayam petelur, hasilnya bisa untuk konsumsi sekaligus dijual. Ini membuka peluang usaha baru,” tambahnya.

Baca Juga :  Wagub Mian: Jangan Kejar Tayang, Fokus pada Kualitas Pembangunan Infrastruktur

Dengan konsep sederhana namun efektif, urban farming diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan hobi, tetapi juga menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga.

Untuk memperluas penerapan program ini, Pemprov Bengkulu terus melakukan berbagai upaya, mulai dari pelatihan, pendampingan, hingga pengembangan kawasan percontohan.

Langkah ini dilakukan agar masyarakat dapat memahami teknik urban farming secara tepat dan mampu menerapkannya secara mandiri.

“Ke depan, kita ingin urban farming ini semakin luas diterapkan. Tujuannya agar masyarakat lebih mandiri, produktif, dan tidak bergantung sepenuhnya pada pasokan dari luar,” tutup Sri.

Dengan dorongan ini, urban farming diharapkan menjadi gerakan nyata di tengah masyarakat perkotaan Bengkulu, sekaligus menjadi solusi cerdas menghadapi tantangan keterbatasan lahan dan kebutuhan pangan.

Penulis : Handi Pratama

Editor : Windi Junius

Berita Terkait

Destita Minta Sistem BPJS Kesehatan Dievaluasi Total, Iuran Ganda PPPK
Dari Serap Aspirasi hingga Bedah Rumah, Kapolda Bengkulu Hadirkan Aksi Nyata di Enggano
Wajib Zakat Perusahaan 2,5 Persen Masih Dalam Kajian Hukum
Ketua DPD RI Nilai Pembatasan Wisatawan TN Komodo Kurang Tepat
Prestasi Gemilang! Victor Saragih Promosi ke Eselon I Usai Bongkar Korupsi Rp3,39 Triliun di Bengkulu
Usia 55 Tahun, Bank Bengkulu Tancap Gas: Iswahyudi Dorong Transformasi Total dan Layanan Jemput Bola
Darurat Ekologis Sumatera, PLTU Batubara Picu Kerusakan Laut hingga Hilangnya Terumbu Karang
Usulan Listrik Gratis Bengkulu Tembus 5.500, Pemprov Kejar Target 6.000 Sebelum Dikirim ke Pusat
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 15 April 2026 - 21:38 WIB

Destita Minta Sistem BPJS Kesehatan Dievaluasi Total, Iuran Ganda PPPK

Rabu, 15 April 2026 - 20:37 WIB

Dari Serap Aspirasi hingga Bedah Rumah, Kapolda Bengkulu Hadirkan Aksi Nyata di Enggano

Rabu, 15 April 2026 - 19:04 WIB

Lahan Sempit Bukan Halangan, Pemprov Bengkulu Dorong Urban Farming Jadi Solusi Pangan dan Penghasilan

Selasa, 14 April 2026 - 20:42 WIB

Wajib Zakat Perusahaan 2,5 Persen Masih Dalam Kajian Hukum

Selasa, 14 April 2026 - 15:05 WIB

Ketua DPD RI Nilai Pembatasan Wisatawan TN Komodo Kurang Tepat

Berita Terbaru

Bengkulu

Wajib Zakat Perusahaan 2,5 Persen Masih Dalam Kajian Hukum

Selasa, 14 Apr 2026 - 20:42 WIB

Berita Terkini

Ketua DPD RI Nilai Pembatasan Wisatawan TN Komodo Kurang Tepat

Selasa, 14 Apr 2026 - 15:05 WIB