NARASIDEMOKRASI – Tekanan geopolitik global mulai memberikan sinyal dampak terhadap perekonomian daerah, termasuk Bengkulu. Dalam Sarasehan Perekonomian Bengkulu 2026, sejumlah indikator menunjukkan adanya potensi perlambatan ekonomi pada awal tahun ini.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Muhammad Irfan Octama, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Bengkulu pada triwulan I 2026 berada di kisaran 4,47 hingga 5,03 persen secara tahunan.
Meski masih dalam kategori positif, angka tersebut menunjukkan adanya tekanan dibandingkan tren sebelumnya.
“Potensi perlambatan ini dipengaruhi oleh penurunan transfer ke daerah serta belum pulihnya sektor pertambangan,” jelas Irfan.
Ia menyebutkan, transfer ke daerah mengalami penurunan sekitar 20,38 persen. Kondisi ini tentu berdampak pada perputaran ekonomi di tingkat daerah.
Selain itu, sektor pertambangan yang belum sepenuhnya pulih juga menjadi faktor penahan laju pertumbuhan ekonomi Bengkulu.
Di sisi lain, tekanan global juga dipicu oleh situasi geopolitik internasional. Kepala Departemen Riset Industri dan Regional Bank Mandiri, Dendi Ramdani, mengingatkan bahwa konflik global berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia.
Dalam skenario terburuk, harga minyak bisa mencapai 132 dolar AS per barel jika konflik Iran–Israel berkembang menjadi perang terbuka.
Sementara dalam skenario konflik terbatas, harga minyak diperkirakan berada di kisaran 84 dolar AS per barel. Kondisi ini tentu berpotensi memengaruhi biaya produksi dan distribusi di dalam negeri.
Namun demikian, ada juga kabar positif dari sisi inflasi. Pada Maret 2026, inflasi Bengkulu tercatat sebesar 2,85 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,48 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas harga di Bengkulu masih relatif terjaga meski tekanan global meningkat.
Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Mukomuko sebesar 3,83 persen, sementara Kota Bengkulu mencatat angka 2,52 persen.
Kondisi ini memperlihatkan adanya perbedaan tekanan harga antarwilayah yang perlu diantisipasi oleh pemerintah daerah.
Untuk menghadapi situasi ini, sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, serta lembaga keuangan lainnya menjadi sangat penting.
Langkah-langkah strategis perlu terus diperkuat agar dampak tekanan global tidak terlalu besar terhadap ekonomi daerah.
Meski menghadapi tantangan, sejumlah sektor dinilai masih memiliki prospek yang baik. Di antaranya sektor telekomunikasi, kesehatan, industri pengolahan, makanan dan minuman, serta sektor pemerintahan.
Sementara itu Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, RA Denni, dalam sambutanya menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Bengkulu pada tahun 2025 mencapai 4,82 persen secara tahunan. Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2024 yang berada di angka 4,62 persen.
“Capaian ini menunjukkan bahwa ekonomi Bengkulu tetap tumbuh dan mampu bertahan di tengah dinamika global,” ujar Denni.
Penulis : Handi Pratama
Editor : Windi Junius









