NARASIDEMOKRASI – Proses hukum dugaan penganiayaan yang menyeret Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Dehasen (Unived) Bengkulu terus berjalan. Penyidik Satreskrim Polresta Bengkulu memastikan perkara tersebut tetap diproses selama laporan korban belum dicabut.
Pemeriksaan terhadap pejabat kampus itu dilakukan pada Kamis (5/3/2026). Wakil Rektor III diperiksa di ruang Unit Pidana Umum (Pidum) Polresta Bengkulu sejak pukul 10.00 WIB.
Selain terlapor, penyidik juga telah memintai keterangan sejumlah saksi untuk memperjelas kronologi peristiwa yang diduga terjadi di lingkungan kampus tersebut.
Kasat Reskrim Polresta Bengkulu, Kompol Sujud Alif Yulamlam menegaskan, proses hukum masih terus berjalan sesuai prosedur yang berlaku.
“Proses masih jalan terus. Selagi laporan tidak dicabut oleh korban, perkara ini akan tetap berjalan,” tegas Kompol Sujud.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penyelidikan tidak dapat dihentikan hanya karena dinamika atau tekanan opini publik. Dalam perkara pidana, laporan yang sudah masuk akan diproses hingga ada dasar hukum yang sah untuk menghentikannya.
Sementara itu, Ps Kanit Pidum Polresta Bengkulu, IPDA Revi Harisona, mengungkapkan bahwa hingga saat ini penyidik telah memeriksa empat orang saksi.
Selain itu, terlapor juga sudah menjalani pemeriksaan guna memberikan keterangan terkait peristiwa yang dilaporkan.
“Iya, diperiksa dari jam 10 tadi di Pidum 3. Sejauh ini sudah ada empat saksi yang kami periksa dan terlapor juga sudah diperiksa,” jelasnya.
Pemeriksaan para saksi dilakukan untuk mengumpulkan alat bukti dan menyusun gambaran utuh terkait kejadian yang dilaporkan.
Dalam proses hukum pidana, keterangan saksi menjadi salah satu unsur penting yang akan menentukan arah penanganan perkara.
IPDA Revi juga menegaskan bahwa penyidik tidak bisa menghentikan perkara secara sepihak apabila belum ada perdamaian antara kedua belah pihak.
“Selagi tidak ada perdamaian antara kedua belah pihak, penyidik tidak bisa menghentikan perkaranya. Nanti kalau sudah semua pemeriksaan kami gelar,” ujarnya.
Setelah seluruh proses pemeriksaan rampung, penyidik akan melakukan gelar perkara. Tahap ini bertujuan menentukan langkah hukum berikutnya, termasuk kemungkinan penetapan tersangka jika unsur pidana dinilai terpenuhi.
Kasus ini menjadi perhatian publik karena melibatkan pejabat tinggi di lingkungan perguruan tinggi.
Sebagai institusi pendidikan, kampus diharapkan menjadi ruang yang aman bagi mahasiswa untuk belajar, berdialog, dan mengembangkan diri.
Karena itu, setiap dugaan kekerasan yang terjadi di lingkungan akademik biasanya memicu sorotan luas dari masyarakat.
Meski demikian, pihak kepolisian menegaskan bahwa penanganan perkara tetap dilakukan secara profesional dan berdasarkan alat bukti yang ada.
Jika dalam gelar perkara ditemukan cukup bukti, proses hukum dapat berlanjut ke tahap penyidikan lanjutan hingga kemungkinan penetapan tersangka.
Namun apabila fakta hukum menunjukkan hal yang berbeda, penyidik juga memiliki kewenangan untuk menentukan langkah lain sesuai prosedur hukum.
Publik kini menunggu perkembangan berikutnya dari proses penyelidikan tersebut.
Selain itu, perhatian juga tertuju pada langkah internal kampus terkait posisi pejabat yang tengah menjalani pemeriksaan oleh aparat penegak hukum.
Untuk sementara, polisi memastikan seluruh proses berjalan sesuai aturan.
Selama laporan belum dicabut dan belum ada perdamaian resmi antara kedua pihak, perkara ini dipastikan tetap bergulir.
Penulis : Windi Junius
Editor : Redaksi









