Demo Hardiknas Mahasiswa Bengkulu Kecewa Tidak Bertemu Komisi IV DPRD Provinsi

- Jurnalis

Selasa, 12 Mei 2026 - 20:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DEMO: Puluhan mahasiswa Bengkulu kecewa terhadap DPRD Provinsi Bengkulu saat aksi Hardiknas 2026 karena Komisi IV tidak hadir menemui massa aksi. Mahasiswa kritik keras persoalan pendidikan dan kesejahteraan di Bengkulu. (SENIN-12-05-2026)--FOTO: HANDI//MBG.

DEMO: Puluhan mahasiswa Bengkulu kecewa terhadap DPRD Provinsi Bengkulu saat aksi Hardiknas 2026 karena Komisi IV tidak hadir menemui massa aksi. Mahasiswa kritik keras persoalan pendidikan dan kesejahteraan di Bengkulu. (SENIN-12-05-2026)--FOTO: HANDI//MBG.

NARASIDEMOKRASI – Aksi demonstrasi puluhan mahasiswa yang tergabung dalam “Aliansi Bengkulu Mengingat” di depan kantor DPRD Provinsi Bengkulu, Selasa (12/5/2026), berubah menjadi luapan kekecewaan. Massa aksi yang datang membawa isu pendidikan dan kesejahteraan masyarakat justru tidak berhasil bertemu dengan Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu yang membidangi pendidikan.

Mahasiswa menilai ketidakhadiran Komisi IV menjadi bukti bahwa persoalan pendidikan di Bengkulu belum dianggap serius oleh para wakil rakyat. Dalam momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), mahasiswa berharap DPRD hadir mendengar langsung keresahan masyarakat. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Aksi yang dimulai sekitar pukul 14.00 WIB itu diikuti mahasiswa dari berbagai organisasi dan kampus, mulai dari HMI, GMNI, IMM, mahasiswa UIN FAS Bengkulu, Dehasen hingga Unihaz. Mereka datang membawa berbagai tuntutan keras terkait kondisi pendidikan di Bengkulu yang dinilai masih penuh ketimpangan.

Koordinator lapangan aksi, Ahmad Fadli, mengatakan mahasiswa kecewa karena anggota Komisi IV tidak hadir saat audiensi berlangsung. Padahal, isu yang dibawa massa aksi berkaitan langsung dengan dunia pendidikan.

“Kami kecewa terhadap dewan. Kami anggap mereka tidak mendengarkan aspirasi masyarakat maupun mahasiswa,” tegas Ahmad Fadli di hadapan massa aksi.

Mahasiswa akhirnya hanya ditemui Wakil Ketua I DPRD Provinsi Bengkulu Teuku Zulkarnain bersama anggota DPRD Ali Saftaini dan Baidari Citra Dewi. Dalam dialog yang berlangsung cukup panas itu, mahasiswa tetap mendesak agar seluruh anggota Komisi IV hadir langsung.

Namun permintaan tersebut tidak terpenuhi karena Komisi IV disebut sedang menjalankan agenda dinas luar. Jawaban itu justru membuat mahasiswa semakin geram. Mereka menilai persoalan pendidikan seharusnya menjadi prioritas utama, terlebih aksi dilakukan tepat dalam peringatan Hardiknas.

Baca Juga :  Darurat Ekologis Sumatera, PLTU Batubara Picu Kerusakan Laut hingga Hilangnya Terumbu Karang

Dalam orasinya, mahasiswa menyoroti berbagai persoalan pendidikan di Bengkulu. Mulai dari ketimpangan fasilitas sekolah, dugaan komersialisasi pendidikan, hingga lemahnya perlindungan terhadap korban kekerasan seksual di lingkungan sekolah.

Menurut Ahmad, sampai saat ini kesejahteraan dunia pendidikan masih jauh dari perhatian serius pemerintah daerah.

“Isu pendidikan dan kesejahteraannys sampai hari ini masih belum dikelola dengan baik oleh pemerintah Bengkulu,” ujarnya.

Mahasiswa juga menilai banyak sekolah di Bengkulu masih mengalami ketimpangan fasilitas. Di beberapa wilayah, sarana pendidikan dinilai belum layak, sementara kualitas tenaga pendidik juga belum merata. Selain itu, massa aksi menyoroti dugaan praktik komersialisasi Pendidikan.

“Kami akan kaji ulang dan kami akan terus menuntut sampai tuntutan ini dijawab oleh DPRD Provinsi Bengkulu,” sambung Ahmad.

Aksi demonstrasi itu berlangsung hingga sekitar pukul 17.20 WIB. Setelah menyampaikan tuntutan dan melakukan audiensi, massa akhirnya membubarkan diri dengan pengawalan aparat kepolisian.

Sementara itu, Wakil Ketua I DPRD Provinsi Bengkulu, Teuku Zulkarnain, membenarkan bahwa audiensi belum berjalan maksimal karena Komisi IV sedang menjalankan tugas lain.

“Mahasiswa meminta Komisi IV hadir karena dianggap berkaitan langsung dengan isu pendidikan yang mereka bawa. Kami sudah berupaya menghadirkan mereka, tetapi sedang menjalankan tugas lain dari pimpinan,” ujar Teuku.

Teuku juga menanggapi desakan mahasiswa terkait keterbukaan dokumen perjalanan dinas anggota DPRD berupa Surat Perintah Tugas (SPT). Menurutnya, dokumen tersebut nantinya akan menjadi arsip resmi Sekretariat Dewan dan menjadi bagian pemeriksaan BPK.

Baca Juga :  Randis Ikut Nunggak Pajak, Wagub Mian Minta Kepala Daerah Segera Bertindak

Meski demikian, Teuku memastikan DPRD tetap memberi perhatian terhadap pemerataan kualitas pendidikan di Bengkulu.

“Fokus kita bagaimana seluruh SMA di Bengkulu memiliki kualitas guru dan fasilitas yang setara. Pendidikan juga masih menjadi prioritas utama anggaran daerah selain kesehatan dan infrastruktur,” katanya.

Namun bagi mahasiswa, jawaban itu belum cukup. Mereka menilai DPRD harus membuktikan keberpihakan terhadap dunia pendidikan dengan tindakan nyata, bukan hanya pernyataan formal saat aksi berlangsung.

Berikut tuntunan massa aksi :

  1. Mendesak DPRD Provinsi Bengkulu untuk menetapkan anggaran pendidikan dan kesehatan sebagai sektor prioritas utama dalam APBD, bukan sekadar sektor pendukung, guna menjamin hak dasar masyarakat.
  2. Menuntut dan Mendesak DPRD serta Pemerintah Provinsi Bengkulu menghentikan penggerusan anggaran pendidikan untuk program-program seremonial atau non-esensial (seperti MBG/Makan Bergizi Gratis yang dibebankan ke APBD Pendidikan), dan memprioritaskan pemenuhan serta pemerataan infrastruktur pendidikan yang layak di seluruh pelosok Bengkulu.
  3. Mendesak serta Mengevaluasi DPRD dan Dinas Pendidikan Provinsi Bengkulu untuk mengintegrasikan kebijakan kurikulum yang berbasis pada potensi, karakteristik, dan kebutuhan lokal Provinsi Bengkulu.
  4. Mendesak DPRD dan Pemerintah Provinsi Bengkulu untuk menghentikan segala bentuk komersialisasi pendidikan, pungutan liar, dan praktik jual beli kursi/seragam yang memberatkan wali murid di sekolah.
  5. Menuntut Pemerintah Provinsi Bengkulu untuk mengutamakan keselamatan dan keadilan bagi korban kekerasan/pelecehan seksual di sekolah, serta menindak tegas pelaku tanpa melindungi reputasi institusi.

Penulis : Handi Pratama

Editor : Windi Junius

Berita Terkait

Pemkab Bengkulu Tengah Tanam 1.000 Mangrove, Perkuat Benteng Alami Pesisir dari Ancaman Abrasi
Helmi Hasan dan Ombudsman RI Perkuat Sinergi, Fokus Tingkatkan Kualitas Pelayanan Publik di Bengkulu
SMPN 19 Bengkulu Menunggu Uluran Tangan Pusat, Revitalisasi Capai Rp2 Miliar
Targetkan 67 Kelurahan Masuk Program Binaan Imigrasi, Pemkot Bengkulu Perkuat Pencegahan TPPO
Data Akurat Jadi Kunci, BPS Ajak Pelaku UMKM Bengkulu Berpartisipasi dalam Sensus Ekonomi
BKD Bengkulu Tegaskan Peserta Absen Otomatis Gugur dari Seleksi Karo Hukum
Akui Pakai Uang Perusahaan, Latifa Dituntut 4,5 Tahun Penjara
Jaksa Nilai Latifa Terbukti Gelapkan Dana Perusahaan, Tuntut 4,5 Tahun Penjara
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 19:51 WIB

Pemkab Bengkulu Tengah Tanam 1.000 Mangrove, Perkuat Benteng Alami Pesisir dari Ancaman Abrasi

Selasa, 28 Juli 2026 - 18:20 WIB

Helmi Hasan dan Ombudsman RI Perkuat Sinergi, Fokus Tingkatkan Kualitas Pelayanan Publik di Bengkulu

Senin, 27 Juli 2026 - 20:22 WIB

SMPN 19 Bengkulu Menunggu Uluran Tangan Pusat, Revitalisasi Capai Rp2 Miliar

Senin, 27 Juli 2026 - 19:51 WIB

Targetkan 67 Kelurahan Masuk Program Binaan Imigrasi, Pemkot Bengkulu Perkuat Pencegahan TPPO

Senin, 27 Juli 2026 - 19:19 WIB

Data Akurat Jadi Kunci, BPS Ajak Pelaku UMKM Bengkulu Berpartisipasi dalam Sensus Ekonomi

Berita Terbaru