NARASIDEMOKRASI – Kota Bengkulu saat ini masih menghadapi timbulan sampah yang diperkirakan mencapai 250 hingga 280 ton setiap hari. Dengan jumlah penduduk sekitar 400 ribu jiwa, besarnya volume sampah menjadi tantangan yang harus dihadapi dalam pengelolaan lingkungan dan pengurangan beban di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bengkulu, Anshar Amin, mengatakan timbulan sampah tersebut dihitung berdasarkan rata-rata produksi sampah masyarakat sebesar 0,6 kilogram per orang per hari.
“Kalau volume sampah kita memiliki penduduk sekitar 400 ribu dan kita estimasikan jumlah per orang menghasilkan 0,6 kilogram sampah per hari. Artinya ada 250 sampai 280 ton per hari. Itulah potensi timbulan sampah di Kota Bengkulu,” kata Anshar, Senin (20/07/2026).
Di tengah tingginya volume sampah itu, Anshar mengakui pengurangan sampah yang masuk ke TPA masih bergantung pada partisipasi masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.
Menurutnya, tidak semua sampah yang dihasilkan warga berakhir di TPA karena sebagian telah dikelola melalui bank sampah maupun pengolahan sampah organik.
“Sebenarnya sudah ada penanganan sampah di masing-masing kelurahan. Tidak semuanya dibuang ke TPA. Ada warga, pegiat, termasuk komunitas yang sudah melakukan pemilahan sampah. Sampah anorganik dijual ke bank sampah, sedangkan sampah organik diolah menjadi kompos, ekoenzim, dan pupuk,” ujarnya.
Sehingga, lanjut Anshar, DLH terus mengampanyekan pemilahan sampah dari sumber sebagai strategi untuk menekan timbulan sampah yang masuk ke TPA. Selain mengurangi beban pengangkutan dan pembuangan, langkah tersebut dinilai mampu memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
“Sekarang kita menggaungkan bagaimana mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA dengan menghimbau warga melakukan pemilahan sampah dari sumber, yaitu rumah tangga. Ketika dipilah, volume sampah yang dibuang ke TPA berkurang, dan sampah anorganik memiliki nilai rupiah karena bisa dijual ke bank sampah,” jelas Anshar.
Ia menambahkan, sejumlah wilayah telah menerapkan pola tersebut, di antaranya Bank Sampah Srikandi Merah Putih di Kelurahan Padang Harapan yang mampu mengumpulkan sampah anorganik hingga berton-ton setiap bulan serta pemanfaatan sampah organik menjadi pakan maggot di Kelurahan Sawah Lebar.
“otomatis dengan adanya pembelian sampah dari sumber ini maka kemudian volume sampah yang ada di TPA itu tidak semuanya dibuang ke TPA tapi kemudian dipilah, kemudian diolah sehingga menghasilkan dan mengakibatkan jumlah sampah yang dibuang ke TPA itu menjadi berkurang,” tutup Anshar.
Penulis : Handi Pratama








