Darurat Ekologis Sumatera, PLTU Batubara Picu Kerusakan Laut hingga Hilangnya Terumbu Karang

- Jurnalis

Minggu, 12 April 2026 - 12:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

NARASIDEMOKRASI – Dampak lingkungan dari operasional PLTU batubara di Sumatera kian mengkhawatirkan. Koalisi Sumatera Terang untuk Energi Bersih (STuEB) menyebut kondisi ekologis di wilayah ini sudah masuk kategori darurat.

Hasil pemantauan pada Maret 2026 di delapan provinsi menunjukkan adanya kerusakan serius pada ekosistem darat dan laut akibat aktivitas industri batubara.

Di Bengkulu, dampak paling nyata terjadi di kawasan pesisir Teluk Sepang. Tim menemukan bahwa pembuangan air bahang dari PLTU menyebabkan kenaikan suhu air laut lebih dari 2 derajat Celsius.

Selain itu, terjadi perubahan tingkat keasaman air serta penurunan kadar oksigen terlarut yang berada di bawah ambang batas.

Baca Juga :  Elva Mardiana Ukir Sejarah Jadi Perempuan Pertama Jabat Pj Sekda Rejang Lebong

Cimbyo Layas Ketaren dari Kanopi Hijau Indonesia menyebut kondisi ini telah merusak ekosistem terumbu karang.

“Terjadi hilangnya tiga spesies dan tutupan karang hidup hanya tersisa sekitar 4 persen,” ujarnya.

Tak hanya itu, aktivitas PLTU juga berdampak pada ekosistem pesisir lainnya. Limbah yang dibuang ke laut dinilai merusak habitat ikan, yang berimbas langsung pada pendapatan nelayan.

Di Sumatera Utara, nelayan tradisional mengeluhkan terganggunya jalur tangkap akibat aktivitas PLTU Pangkalan Susu yang menggunakan jalur laut.

Sementara itu, di Sumatera Selatan, petani di sekitar PLTU Keban Agung mengalami penurunan hasil panen hingga lebih dari 50 persen.

Baca Juga :  Jembatan Perintis Garuda Hampir Selesai, Harapan Baru Dongkrak Ekonomi Warga Pagar Ruyung

“Bahkan ada yang gagal panen. Ini sangat berdampak pada kehidupan masyarakat,” kata Melia Santry dari Yayasan Anak Padi.

Di Sumatera Barat, kondisi serupa juga terjadi. Warga di sekitar PLTU Ombilin dilaporkan hidup dalam paparan debu batubara yang masuk hingga ke dalam rumah.

Menurut STuEB, kondisi ini menunjukkan bahwa dampak PLTU tidak hanya terbatas pada satu wilayah, tetapi menyebar luas dan terjadi secara sistematis.

Koalisi ini menilai perlu adanya langkah tegas dari pemerintah untuk menghentikan kerusakan lingkungan yang terus terjadi.

Penulis : Handi Pratama

Editor : Windi Junius

Berita Terkait

Aktivitas Gunung Anak Krakatau Masih Dinamis, Pemprov Bengkulu Tingkatkan Kewaspadaan
Gandeng Kejati Bengkulu, KPU Perkuat Tata Kelola Lembaga Berlandaskan Hukum
Kadis ESDM Bengkulu Pastikan Stok BBM Bukan Kosong, Distribusi Sempat Terkendala Proses Bongkar Kapal
HPMPI Bawa Tujuh Aspirasi ke DPR RI, Minta Masa Depan Pertashop Diperkuat
Kejar Perbaikan SPI, Pemprov Bengkulu Tunjuk Sekretaris OPD Jadi PIC
Warga Seluma Adukan Sengketa Lahan HGU PT Agri Andalas ke DPRD Provinsi Bengkulu
Gagal Terbang akibat Abu Vulkanik, 120 Jemaah Umrah BST Travel Menanti Kepastian
Resmi Dilantik, Nayu Aldila Putri Bawa Tanggung Jawab Baru di Biro Hukum Pemprov Bengkulu
Berita ini 37 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 14:50 WIB

Aktivitas Gunung Anak Krakatau Masih Dinamis, Pemprov Bengkulu Tingkatkan Kewaspadaan

Kamis, 10 September 2026 - 11:40 WIB

Gandeng Kejati Bengkulu, KPU Perkuat Tata Kelola Lembaga Berlandaskan Hukum

Rabu, 9 September 2026 - 16:38 WIB

Kadis ESDM Bengkulu Pastikan Stok BBM Bukan Kosong, Distribusi Sempat Terkendala Proses Bongkar Kapal

Selasa, 8 September 2026 - 18:18 WIB

HPMPI Bawa Tujuh Aspirasi ke DPR RI, Minta Masa Depan Pertashop Diperkuat

Selasa, 8 September 2026 - 17:47 WIB

Kejar Perbaikan SPI, Pemprov Bengkulu Tunjuk Sekretaris OPD Jadi PIC

Berita Terbaru