Drainase Buruk dan Luapan Sungai: Banjir Rejang Lebong Jadi Alarm Kuat Evaluasi Infrastruktur

- Jurnalis

Senin, 22 Desember 2025 - 15:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

NARASIDEMOKRASI – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Rejang Lebong pada Minggu (22/12/2025) memicu banjir di delapan kelurahan. Meski hujan menjadi pemicu utama, serangkaian faktor infrastruktur—seperti sistem drainase yang minim, sedimentasi sungai, hingga tata ruang yang belum berorientasi mitigasi—turut memperburuk dampak banjir yang merendam ratusan rumah. Peristiwa ini menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah untuk mengevaluasi kebijakan pembangunan.

Delapan kelurahan terdampak masing-masing Jalan Baru, Pasar Tengah, Pasar Baru, Kampung Jawa, Sidorejo, Kepala Siring, Talang Rimbo Baru, serta Air Bang. Di Kelurahan Jalan Baru, sebanyak 182 kepala keluarga merasakan dampak langsung ketika air meluap memasuki rumah warga dan membawa material lumpur. Di Air Bang, longsor bahkan menutup sebagian wilayah, membuat akses bantuan sempat terganggu.

Sekretaris BPBD Provinsi Bengkulu, Khristian Hermasnyah, menyatakan banjir disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi dan meluapnya sungai. Namun para pengamat lingkungan menilai persoalan tidak sesederhana itu. Wilayah pemukiman yang makin padat, saluran air yang tersumbat sampah, serta lemahnya penataan ruang menjadi faktor yang selama ini kurang diperhatikan.

Peristiwa banjir kini membuka kembali perdebatan publik seputar infrastruktur. Warga menilai perbaikan drainase hanyalah kosmetik tanpa adanya normalisasi sungai berkala. Banyak saluran air yang tertutup sedimen bertahun-tahun akibat minimnya pengerukan. Saat hujan besar datang, air kehilangan jalur alirannya dan akhirnya menuju pemukiman.

Baca Juga :  Pelindo Bengkulu Percepat Kawasan Industri Pulau Baai, Revisi RTRW Jadi Kunci Masuknya Investor

Selain itu, pembangunan permukiman di bantaran sungai juga mempersempit aliran. Pemerintah daerah dinilai belum tegas memberi batas aman bangunan agar tidak berada di zona merah rawan banjir. Sementara itu, sampah rumah tangga masih menjadi salah satu penyumbat utama drainase. Banyak titik saluran yang tertutup plastik dan material lain.

Bencana ini juga mengungkap pentingnya sistem peringatan dini. Warga mengaku, luapan kali ini terjadi cepat tanpa peringatan berarti. Minimnya alat pemantauan debit sungai menjadi salah satu penyebab keterlambatan informasi. Padahal teknologi early warning kini semakin terjangkau dan dapat dipasang di wilayah rawan.

Meski demikian, upaya pemerintah telah terlihat. BPBD menurunkan tim evakuasi, mendirikan posko, serta menyalurkan bantuan logistik. Khristian mengimbau agar warga tetap waspada.

“Meski banjir telah surut, kita minta warga tetap waspada bila terjadi hujan kembali, karena saat ini memang sedang masuk musim penghujan,” ujarnya.

Baca Juga :  Dari Tuntutan Miliaran Rupiah hingga Vonis Bebas, Kasus Tol Bengkulu Belum Berakhir 

Warga berharap banjir ini menjadi momentum evaluasi. Mereka tidak ingin langkah penanganan sekadar bersifat jangka pendek. Normalisasi sungai, drainase modern, pembenahan kawasan bantaran, dan edukasi sampah harus menjadi agenda prioritas.

Para tokoh masyarakat mendesak adanya sinergi antara pemerintah provinsi dan kabupaten untuk mempercepat pembangunan berbasis mitigasi. Banjir dan longsor di Air Bang memberi bukti bahwa ancaman bencana bukan sekadar banjir, tetapi juga geologi dan erosi.

Banjir ini bukan peristiwa pertama di Rejang Lebong. Wilayah ini kerap terdampak saat musim penghujan. Perbedaannya, kini intensitas hujan lebih tinggi seiring perubahan iklim. Tanpa upgrading infrastruktur dan tata ruang, ancaman serupa akan kembali terjadi.

Peristiwa banjir 2025 ini menjadi titik penting—bukan hanya karena kerugian material dan trauma warga, tetapi karena membuka mata tentang perlunya pembangunan yang berorientasi keselamatan. Rejang Lebong perlu lebih dari sekadar perbaikan jalan dan bangunan. Ia membutuhkan kebijakan tata ruang yang adaptif, drainase yang fungsional, dan kesadaran kolektif menghadapi cuaca ekstrem.

Berita Terkait

Gandeng Kejati Bengkulu, KPU Perkuat Tata Kelola Lembaga Berlandaskan Hukum
Kadis ESDM Bengkulu Pastikan Stok BBM Bukan Kosong, Distribusi Sempat Terkendala Proses Bongkar Kapal
HPMPI Bawa Tujuh Aspirasi ke DPR RI, Minta Masa Depan Pertashop Diperkuat
Kejar Perbaikan SPI, Pemprov Bengkulu Tunjuk Sekretaris OPD Jadi PIC
Warga Seluma Adukan Sengketa Lahan HGU PT Agri Andalas ke DPRD Provinsi Bengkulu
Gagal Terbang akibat Abu Vulkanik, 120 Jemaah Umrah BST Travel Menanti Kepastian
Resmi Dilantik, Nayu Aldila Putri Bawa Tanggung Jawab Baru di Biro Hukum Pemprov Bengkulu
GERKATIN Bengkulu Ubah Mars Kota Bengkulu ke Bahasa Isyarat
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 11:40 WIB

Gandeng Kejati Bengkulu, KPU Perkuat Tata Kelola Lembaga Berlandaskan Hukum

Rabu, 9 September 2026 - 16:38 WIB

Kadis ESDM Bengkulu Pastikan Stok BBM Bukan Kosong, Distribusi Sempat Terkendala Proses Bongkar Kapal

Selasa, 8 September 2026 - 18:18 WIB

HPMPI Bawa Tujuh Aspirasi ke DPR RI, Minta Masa Depan Pertashop Diperkuat

Selasa, 8 September 2026 - 17:47 WIB

Kejar Perbaikan SPI, Pemprov Bengkulu Tunjuk Sekretaris OPD Jadi PIC

Selasa, 8 September 2026 - 16:46 WIB

Warga Seluma Adukan Sengketa Lahan HGU PT Agri Andalas ke DPRD Provinsi Bengkulu

Berita Terbaru