NARASIDEMOKRASI – Kabar baik bagi petani sawit di Provinsi Bengkulu. Pemerintah melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) menyiapkan bantuan sebesar Rp60 juta per hektare untuk mendukung peremajaan kebun sawit milik masyarakat.
Program ini menjadi salah satu langkah nyata pemerintah dalam membantu petani meningkatkan hasil produksi sekaligus memperbaiki kualitas tanaman sawit.
Koordinator PSR Dinas TPHP Bengkulu, Hamdani, menjelaskan bahwa setiap petani dapat mengajukan bantuan maksimal hingga empat hektare berdasarkan Nomor Induk Kependudukan (NIK).
Target program tersebut akan difokuskan di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu Utara, Bengkulu Tengah, Seluma, dan Bengkulu Selatan.
“Bantuan yang diberikan Rp60 juta per hektare. Maksimal satu NIK bisa mengajukan sampai empat hektare,” jelasnya.
Dengan nilai bantuan tersebut, petani dinilai sangat terbantu dalam proses peremajaan yang selama ini membutuhkan biaya besar. Mulai dari penebangan tanaman lama, pengolahan lahan, hingga penanaman kembali dengan bibit unggul.
Program ini juga menjadi bagian dari visi besar Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, dalam meningkatkan kesejahteraan petani melalui intervensi langsung yang berdampak nyata.
Selain bantuan dana, petani juga akan mendapatkan bibit unggul yang telah teruji kualitasnya. Beberapa jenis benih yang digunakan antara lain varietas PPKS dari Medan dan benih SC Sriwijaya.
Hamdani menjelaskan, penggunaan benih disesuaikan dengan kondisi wilayah. Di Mukomuko misalnya, benih SC Sriwijaya lebih banyak digunakan, sementara daerah lain cenderung menggunakan PPKS.
“Bibit yang digunakan merupakan benih unggul agar hasilnya lebih maksimal,” ujarnya.
Dengan penggunaan bibit berkualitas, produktivitas sawit diharapkan meningkat secara signifikan. Hal ini tentu berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani.
Tak hanya itu, program ini juga mendorong petani untuk beralih ke sistem perkebunan yang lebih modern dan terkelola dengan baik.
Melalui PSR, pemerintah ingin memastikan bahwa petani tidak lagi terjebak dalam siklus produksi rendah akibat tanaman tua yang tidak produktif.
Penulis : Windi Junius
Editor : Redaksi









