NARASIDEMOKRASI – Selain menjaga alur pelayaran, sediment trap di Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu kini menunjukkan dampak lain yang tak kalah menarik. Endapan pasir laut yang tertangkap sistem tersebut telah membentuk daratan baru seluas sekitar 30 hektare di sisi pintu alur pelayaran.
General Manager PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Bengkulu, Dr. Dimas Rizky Kusmayadi, mengatakan daratan tersebut merupakan hasil akumulasi pasir laut yang tertangkap sediment trap selama bertahun-tahun.
“Pasir dari lautan yang tertangkap sediment trap telah memunculkan daratan baru seluas kurang lebih 30 hektare,” ungkap Dimas.
Menurutnya, terbentuknya daratan ini menjadi indikator kuat bahwa sediment trap bekerja sesuai desain. Pasir yang sebelumnya berpotensi mengendap di pintu alur kini justru terkumpul di area yang aman dan terkendali.
Daratan baru ini tidak muncul secara instan, melainkan melalui proses alami yang dipandu oleh sistem sediment trap. Setiap hari, pasir laut yang terbawa arus ditangkap dan ditahan, sehingga lama-kelamaan membentuk timbunan yang semakin luas.
Dimas menilai kondisi ini memberi keuntungan ganda bagi pengelola pelabuhan. Di satu sisi, alur pelayaran tetap terjaga kedalamannya. Di sisi lain, endapan pasir dapat dimanfaatkan untuk kepentingan infrastruktur pelabuhan di masa depan.
Saat ini, pasir yang membentuk daratan tersebut direncanakan akan digunakan untuk penanggulangan abrasi, khususnya pada bagian penahan gelombang menuju kolam pelabuhan. Langkah ini dinilai lebih efisien karena memanfaatkan material yang sudah tersedia di sekitar kawasan pelabuhan.
“Pasir yang menjadi daratan pada sediment trap itu rencananya akan digunakan untuk menanggulangi abrasi di area penahan gelombang,” jelas Dimas.
Pemanfaatan pasir lokal ini juga dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap material dari luar, sekaligus menekan biaya pemeliharaan infrastruktur pelabuhan.
Meski telah membentuk daratan baru, fungsi utama sediment trap tetap sebagai pengendali sedimen. Hingga kini, sistem tersebut mampu mencegah sekitar 80 persen endapan pasir agar tidak masuk ke pintu alur pelayaran.
Adapun sekitar 20 persen sedimen yang masih lolos, atau setara 2.000 kubik pasir per hari, tetap menjadi perhatian. Pengelola pelabuhan menyiapkan langkah pemeliharaan rutin agar sisa endapan ini tidak mengganggu aktivitas kapal.
Dengan kombinasi fungsi pengendalian sedimen dan potensi pemanfaatan pasir, sediment trap di Pelabuhan Pulau Baai dinilai sebagai solusi jangka panjang yang berkelanjutan. Tidak hanya menjaga keselamatan pelayaran, tetapi juga membuka peluang penguatan infrastruktur pelabuhan ke depan.
Penulis : Windi Junius
Editor : Redaksi









