NARASIDEMOKRASI – Suasana Lembaga Pembinaan Anak (LPA) Bentiring biasanya tenang, bahkan cenderung kaku. Namun Jumat itu terasa berbeda. Senyum para anak binaan memekar ketika Wakapolda Bengkulu Brigjen Pol Dicky Sondani melangkah masuk, bukan sebagai penegak hukum yang mengintimidasi, melainkan sebagai sosok ayah yang membawa pesan kebaikan.
Di tengah terik Bengkulu, Wakapolda duduk bersama para anak di sebuah aula sederhana. Suasana berubah cair. Tidak ada jarak pangkat dan seragam. Yang tersisa hanyalah percakapan hangat antara mereka yang sedang menjalani masa pembinaan, dan seorang jenderal polisi yang ingin menjadi pendengar.
“Kalian harus tetap percaya pada diri kalian. Tidak ada manusia yang tidak pernah salah,” ucap Wakapolda, membuat beberapa anak terdiam dan menunduk, seakan menyerap setiap kata yang keluar dari bibir sang jenderal.
Ia mengingatkan bahwa masa depan para anak binaan tidak berhenti di balik tembok LPA. Mereka masih memiliki mimpi yang harus dikejar. Kuncinya adalah belajar, disiplin, dan memperkuat keimanan.
“Iman dan takwa itu pegangan hidup. Kalau kalian kuat di situ, insyaallah jalan kalian akan benar,” katanya.
Momen paling menyentuh terjadi ketika Wakapolda membagikan roti satu per satu kepada anak-anak. Walau sederhana, simbol ini membawa pesan besar: perhatian, kepedulian, dan pengakuan bahwa mereka tetap anak-anak yang pantas disayangi.
Di balik pagar tinggi dan rutinitas pembinaan, kunjungan Wakapolda itu seolah menyalakan harapan baru. Bahwa masa depan bukan sesuatu yang hilang; ia hanya menunggu untuk kembali dijemput.









