Aliansi Petani Sawit Bengkulu Kritik Kebijakan Ekspor Satu Pintu Prabowo

- Jurnalis

Jumat, 22 Mei 2026 - 13:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aliansi Petani Sawit Bengkulu mengkritik kebijakan ekspor satu pintu melalui BUMN karena dinilai memicu anjloknya harga sawit dan merugikan petani.

Aliansi Petani Sawit Bengkulu mengkritik kebijakan ekspor satu pintu melalui BUMN karena dinilai memicu anjloknya harga sawit dan merugikan petani.

NARASIDEMOKRASI – Ketua Aliansi Petani Sawit Provinsi Bengkulu, Edi Mashury, mengkritik rencana pemerintah menerapkan ekspor satu pintu untuk komoditas Crude Palm Oil (CPO) dan batu bara melalui BUMN. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi memicu hambatan perdagangan internasional dan merugikan petani sawit.

Edi mengatakan, pelaku pasar global lebih menyukai sistem perdagangan yang cepat dan tidak berbelit. Jika seluruh proses ekspor dipusatkan melalui satu lembaga, maka dikhawatirkan terjadi penumpukan administrasi dan keterlambatan pengiriman barang.

“Kalau pelayanan lambat, pembeli luar negeri bisa pindah ke negara lain. Ini yang kami khawatirkan,” kata Edi.

Baca Juga :  Bengkulu Sumbang Serapan 3.867 Ton Beras, Dukung Target Swasembada Pangan Nasional

Ia menyebut dampak kebijakan tersebut sudah mulai terasa di Bengkulu. Harga TBS sawit yang sebelumnya berada di kisaran Rp2.600 hingga Rp3.400 per kilogram kini turun drastis hingga menyentuh Rp1.500 per kilogram di tingkat RAM.

Menurut Edi, persoalan ini bukan sekadar masalah daerah, tetapi berkaitan langsung dengan kebijakan nasional yang memengaruhi rantai perdagangan sawit.

“Kalau di hulunya sudah keruh, tidak mungkin di hilirnya jernih,” ujarnya.

Edi juga mempertanyakan alasan pemerintah hanya memperketat pengaturan ekspor pada komoditas CPO dan batu bara. Ia menilai masih banyak komoditas strategis lain yang seharusnya juga mendapat perhatian serupa.

Baca Juga :  ASN Kemenag Bengkulu Didorong Lincah dan Adaptif di Usia 80 Tahun

“Kenapa hanya CPO dan batu bara? Nikel, emas, dan mineral strategis lain juga penting bagi negara,” katanya.

Ia menegaskan bahwa sawit berbeda dengan sektor tambang lain karena melibatkan jutaan petani dan tenaga kerja. Menurutnya, kebijakan yang salah dapat berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat kecil.

Selain itu, Edi menyoroti minimnya respons organisasi petani sawit nasional terhadap penurunan harga sawit yang sedang terjadi.

“Petani sekarang sangat terpukul. Tapi organisasi besar yang selama ini dekat dengan program pemerintah belum bersuara keras,” pungkasnya.

Penulis : Windi Junius

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Gandeng Kejati Bengkulu, KPU Perkuat Tata Kelola Lembaga Berlandaskan Hukum
Kadis ESDM Bengkulu Pastikan Stok BBM Bukan Kosong, Distribusi Sempat Terkendala Proses Bongkar Kapal
HPMPI Bawa Tujuh Aspirasi ke DPR RI, Minta Masa Depan Pertashop Diperkuat
Kejar Perbaikan SPI, Pemprov Bengkulu Tunjuk Sekretaris OPD Jadi PIC
Warga Seluma Adukan Sengketa Lahan HGU PT Agri Andalas ke DPRD Provinsi Bengkulu
Gagal Terbang akibat Abu Vulkanik, 120 Jemaah Umrah BST Travel Menanti Kepastian
Resmi Dilantik, Nayu Aldila Putri Bawa Tanggung Jawab Baru di Biro Hukum Pemprov Bengkulu
GERKATIN Bengkulu Ubah Mars Kota Bengkulu ke Bahasa Isyarat
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 11:40 WIB

Gandeng Kejati Bengkulu, KPU Perkuat Tata Kelola Lembaga Berlandaskan Hukum

Rabu, 9 September 2026 - 16:38 WIB

Kadis ESDM Bengkulu Pastikan Stok BBM Bukan Kosong, Distribusi Sempat Terkendala Proses Bongkar Kapal

Selasa, 8 September 2026 - 18:18 WIB

HPMPI Bawa Tujuh Aspirasi ke DPR RI, Minta Masa Depan Pertashop Diperkuat

Selasa, 8 September 2026 - 17:47 WIB

Kejar Perbaikan SPI, Pemprov Bengkulu Tunjuk Sekretaris OPD Jadi PIC

Selasa, 8 September 2026 - 16:46 WIB

Warga Seluma Adukan Sengketa Lahan HGU PT Agri Andalas ke DPRD Provinsi Bengkulu

Berita Terbaru