BENGKULU BAROMETER – Di tengah naiknya Dolar yang mencapai 17.907,30 Rupiah Indonesia per hari ini berdampak terhadap harga kedelai, sehingga perajin tempe di Kota Bengkulu menghadapi dilema yang tidak mudah. Mereka harus memilih antara menaikkan harga jual atau mempertahankan pelanggan yang selama ini menjadi sumber utama pendapatan.
Bagi Yuneni Wulandari, pilihan tersebut tidak sesederhana menaikkan harga. Sebab, sebagian besar konsumennya berasal dari kalangan masyarakat yang sangat sensitif terhadap perubahan harga kebutuhan sehari-hari.
Karena itulah, ketika harga kedelai naik hingga mencapai Rp850 ribu per karung, Yuneni mengambil langkah yang berbeda. Ia memilih mempertahankan harga jual tempe eceran agar tetap terjangkau masyarakat.
Namun keputusan itu tentu memiliki konsekuensi. Untuk menutupi kenaikan biaya produksi, ukuran dan berat tempe yang dijual harus disesuaikan.
“Kami harus memutar otak. Kalau untuk pelanggan yang membeli dalam jumlah besar ada penyesuaian harga. Tetapi untuk tempe yang dijual satuan, beratnya yang dikurangi agar harga tetap terjangkau,” katanya.
Strategi tersebut sebenarnya cukup umum dilakukan pelaku usaha makanan ketika harga bahan baku meningkat. Dengan mempertahankan harga jual, konsumen tidak merasa terbebani secara langsung.
Meski demikian, langkah itu juga tidak sepenuhnya menguntungkan produsen. Pengurangan ukuran produk membuat keuntungan yang diperoleh menjadi semakin kecil.
Bagi Yuneni, menjaga pelanggan lebih penting dibandingkan memperoleh keuntungan besar dalam jangka pendek. Ia khawatir jika harga dinaikkan secara signifikan, pelanggan akan beralih ke produk lain yang dianggap lebih murah.
Keputusan tersebut menunjukkan bagaimana pelaku usaha kecil harus memiliki kemampuan beradaptasi dalam menghadapi perubahan pasar. Mereka tidak hanya memproduksi barang, tetapi juga harus memahami perilaku konsumen.
Kenaikan harga kedelai sendiri menjadi tantangan besar karena bahan baku tersebut merupakan komponen utama dalam produksi tempe. Ketika harga kedelai naik, hampir seluruh biaya produksi ikut terdampak.
Di tengah kondisi tersebut, para perajin tempe berusaha menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan daya beli masyarakat. Mereka menyadari bahwa tempe merupakan makanan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari warga.
Karena itu, menjaga agar harga tetap terjangkau menjadi salah satu prioritas utama. Meskipun harus mengorbankan sebagian keuntungan, langkah tersebut dianggap lebih aman untuk mempertahankan pasar.
Kisah Yuneni menjadi potret dampak kenaikan Dolar terhadap pelaku usaha kecil di Bengkulu yang bergantung terhadap bahan impor. Dengan segala keterbatasan yang ada, mereka terus mencari cara agar roda usaha tetap berputar dan pelanggan tetap terlayani.
Penulis : Handi Pratama
Editor : Windi Junius









