BENGKULUBAROMETER – Pergantian kepemimpinan di Polda Bengkulu menjadi momen yang menghadirkan berbagai kenangan bagi masyarakat. Setelah sekitar 15 bulan mengemban amanah sebagai Kapolda Bengkulu, Irjen Pol Mardiyono resmi menyerahkan tongkat komando kepada Brigjen Pol Yudhi Sulistianto Wahid. Namun bagi banyak warga, sosok Mardiyono bukan hanya dikenal sebagai pimpinan kepolisian, melainkan sebagai figur yang dekat dengan rakyat dan meninggalkan jejak kepedulian yang sulit dilupakan.
Perwira Tinggi Polri kelahiran Blora, Jawa Tengah, 21 Maret 1969 itu memimpin Polda Bengkulu sejak 12 Maret 2025 hingga 7 Mei 2026. Selama masa pengabdiannya, Mardiyono dikenal luas dengan julukan “Sang Pengayom”, sebuah sebutan yang lahir dari berbagai program sosial dan kemanusiaan yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat.
Di tengah berbagai tantangan tugas kepolisian, Mardiyono memilih menghadirkan pendekatan yang humanis. Ia tidak hanya fokus menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga berupaya membantu masyarakat yang membutuhkan melalui berbagai program sosial yang berkelanjutan.
Salah satu program yang paling membekas adalah bedah rumah bagi warga kurang mampu. Program tersebut dijalankan melalui kolaborasi antara Polda Bengkulu, BAZNAS, REI, dan Pelindo. Melalui program ini, rumah-rumah yang sebelumnya tidak layak huni diubah menjadi tempat tinggal yang aman dan nyaman bagi keluarga penerima manfaat.
Program tersebut didukung oleh gerakan Sriduri (Setiap Hari Dua Ribu), yakni program sedekah yang melibatkan personel Polda Bengkulu. Dana yang terkumpul kemudian disalurkan untuk berbagai kegiatan kemanusiaan, mulai dari pembangunan rumah layak huni, bantuan biaya pengobatan, hingga santunan bagi masyarakat dan anggota Polri yang membutuhkan.
Tak hanya itu, Mardiyono juga menggagas program Sadesahe (Satu Desa Satu Hektare Jagung) sebagai bentuk dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional. Program ini menjadi upaya nyata untuk membantu masyarakat desa meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Bagi masyarakat Bengkulu, berbagai program tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial. Kehadirannya benar-benar dirasakan secara langsung oleh warga.
Ketua Umum Ojol Kamtibmas Bengkulu, Raka Dewangga, mengaku banyak merasakan manfaat dari berbagai kegiatan sosial yang digagas Mardiyono selama menjabat Kapolda Bengkulu.
Menurut Raka, sosok Mardiyono dikenal rendah hati, dekat dengan masyarakat, namun tetap tegas dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin.
“Sosok Pak Mardiyono sangat humble, lembut tetapi tegas. Banyak kegiatan yang kami jalani bersama beliau. Walaupun waktu beliau bertugas di Bengkulu tidak terlalu lama, namun sangat berarti bagi kami. Kami sering mendapatkan bantuan sosial dan layanan kesehatan gratis untuk komunitas Ojol Kamtibmas,” ungkap Raka.
Kesan mendalam juga datang dari Hartati dan Yanto, pasangan warga penerima manfaat program bedah rumah. Sebelum menerima bantuan, mereka tinggal di rumah yang kondisinya sangat memprihatinkan dan jauh dari kata layak.
Kini, kehidupan mereka berubah. Rumah yang sebelumnya hanya berupa bangunan sederhana telah berdiri kokoh dan nyaman untuk ditempati.
Dengan suara bergetar, Hartati mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diberikan.
“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Mardiyono. Dulu kami tinggal di rumah yang tidak layak, bahkan sering mendapat cibiran. Sekarang kami bisa hidup lebih nyaman karena rumah kami sudah layak huni,” katanya sambil menahan haru.
Sementara itu, Yanto berharap sosok yang mereka kenal sebagai “Sang Pengayom” tersebut terus diberikan kesehatan dan kesuksesan dalam menjalankan tugas barunya.
“Semoga di mana pun Bapak Mardiyono bertugas selalu diberikan kesehatan, keselamatan dan kesuksesan. Kami masyarakat Bengkulu tidak akan melupakan kebaikan beliau,” ujar Yanto.
Kini, Irjen Pol Mardiyono mendapat amanah baru sebagai Kakorbinmas Baharkam Polri, sebagaimana tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Nomor ST/960/V/KEP./2026 tertanggal 7 Mei 2026.
Meski telah meninggalkan Bengkulu, berbagai program sosial yang pernah digagasnya masih menjadi cerita yang hidup di tengah masyarakat. Bagi banyak warga, Mardiyono bukan sekadar mantan Kapolda, tetapi pemimpin yang hadir membawa kepedulian, memberikan harapan, dan meninggalkan warisan kebaikan yang akan terus dikenang.









