NARASIDEMOKRASI – Kondisi geografis Bengkulu menjadi tantangan besar dalam pemerataan akses internet. Hingga kini, 41 desa masih berstatus blankspot dan low signal.
Dari laporan Dinas Kominfotik Provinsi Bengkulu, empat desa belum memiliki jaringan sama sekali. Sisanya mengalami sinyal lemah.
Mayoritas desa terdampak berada di kawasan perkebunan dan pegunungan. Wilayah yang tertutup vegetasi lebat dan kontur tanah berbukit membuat pancaran sinyal sulit menjangkau pemukiman warga.
Kabupaten Mukomuko menjadi daerah dengan jumlah desa low signal terbanyak. Tercatat 16 desa di wilayah ini masih mengalami keterbatasan jaringan.
Kepala Dinas Kominfotik Provinsi Bengkulu, Nelly Alesa, menyebut pihaknya terus berkoordinasi dengan penyedia layanan telekomunikasi.
“Hambatan utama adalah kondisi alam. Banyak desa berada di balik perbukitan atau di tengah perkebunan luas,” jelasnya.
Menurut dia, pembangunan menara BTS di wilayah terpencil membutuhkan biaya besar. Selain itu, akses jalan menuju lokasi seringkali sulit dilalui kendaraan berat.
Meski demikian, pemerintah daerah tidak tinggal diam. Wilayah blankspot menjadi fokus utama tahun 2026.
Daftar desa terdampak tersebar di Seluma, Bengkulu Selatan, Bengkulu Tengah, Kepahiang, Lebong, Bengkulu Utara, Mukomuko, hingga Kaur.
Bagi masyarakat, internet sangat penting. Pelajar membutuhkan jaringan untuk mengakses materi belajar. Pelaku usaha kecil memanfaatkannya untuk pemasaran digital. Bahkan layanan administrasi pemerintahan kini banyak berbasis online.
“Kami ingin seluruh masyarakat Bengkulu merasakan akses digital yang sama, tanpa terkecuali,” kata Nelly.
Pemerataan jaringan dinilai menjadi langkah penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi desa. Tanpa internet, desa akan tertinggal dalam arus transformasi digital.
Harapannya, dalam beberapa tahun ke depan, tak ada lagi wilayah yang masuk kategori blankspot di Bengkulu.
Penulis : Windi Junius
Editor : Redaksi









