NARASIDEMOKRASI – Bagi nelayan tradisional, mesin tempel bukan sekadar komponen perahu. Ia adalah penentu jarak, waktu, dan hasil tangkapan. Karena itu, ketika Pemerintah Kabupaten Kaur menyalurkan bantuan mesin tempel kepada 10 kelompok nelayan, kebijakan tersebut langsung menyentuh jantung ekonomi rumah tangga masyarakat tinggal di pesisir.
Penyerahan bantuan yang dilakukan Dinas Perikanan di Aula Setda Kaur, Kamis, 18 Desember 2025, menandai langkah konkret pemerintah daerah dalam memperkuat ekonomi rakyat berbasis kelautan. Di wilayah pesisir, keberhasilan melaut hari ini menentukan apakah dapur tetap mengepul esok hari.
Mesin tempel yang memadai memungkinkan nelayan melaut lebih jauh dan lebih aman. Biaya operasional dapat ditekan karena mesin bekerja lebih efisien. Waktu tempuh yang lebih singkat juga memberi ruang bagi nelayan untuk memilih waktu tangkap terbaik, bukan sekadar mengikuti arus keterbatasan alat.
Wakil Bupati Kaur Abdul Hamid menyebut nelayan sebagai tulang punggung ekonomi daerah yang kerap luput dari perhatian. Menurutnya, bantuan ini merupakan bentuk kehadiran pemerintah dalam menjawab kebutuhan riil masyarakat.
“Kami ingin nelayan bekerja dengan alat yang layak. Jika produktivitas meningkat, maka penghasilan keluarga juga ikut naik. Inilah esensi dari kesejahteraan,” katanya.
Namun pemerintah daerah juga memberi pesan tegas. Bantuan mesin tempel tidak boleh dipindahtangankan. Ia harus dirawat dan digunakan bersama oleh kelompok nelayan penerima, agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Kepala Dinas Perikanan Kaur Ifrianto menilai bantuan ini sebagai investasi sosial-ekonomi. Pemerintah daerah, kata dia, tidak hanya membangun fisik, tetapi juga membangun daya tahan ekonomi masyarakat pesisir.
“Nelayan yang kuat akan menciptakan rantai ekonomi yang sehat, dari hasil tangkapan, distribusi ikan, hingga konsumsi masyarakat,” ujarnya.
Ifrianto menambahkan, sektor perikanan tangkap memiliki efek berganda yang besar. Setiap peningkatan hasil tangkapan nelayan akan menggerakkan pedagang ikan, pengolah hasil laut, hingga pasar tradisional. Karena itu, penguatan sarana produksi nelayan menjadi strategi ekonomi yang rasional.
Sebanyak 10 kelompok nelayan dari berbagai desa menerima bantuan, mulai dari Tanjung Bulan, Sulauwangi, Nusuk, Masria Baru, Awat Mata, hingga Air Long. Sebaran penerima mencerminkan karakter kebijakan yang inklusif dan berbasis kebutuhan lapangan.
Di tengah ketidakpastian ekonomi dan tantangan alam, bantuan mesin tempel memberi harapan baru. Mesin itu bukan hanya menggerakkan perahu, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi keluarga nelayan.
Penulis : Windi Junius
Editor : Redaksi









