NARASIDEMOKRASI – Harapan baru tumbuh di tengah kebun kopi Desa Mangku Rajo, Kecamatan Lebong Selatan, Kabupaten Lebong. Program Kopi Merah Putih yang diluncurkan Pemerintah Provinsi Bengkulu menjadi angin segar bagi petani kopi yang selama ini bergulat dengan harga tak menentu.
Gubernur Bengkulu Helmi Hasan menegaskan bahwa program ini lahir dari aspirasi petani. Pemerintah tidak ingin petani hanya bekerja keras di kebun, tetapi tetap berada di posisi paling lemah dalam rantai perdagangan.
“Petani kita jangan hanya jadi penonton. Mereka harus jadi pelaku utama, dari kebun sampai ke pasar,” ujar Helmi.
Selama bertahun-tahun, sebagian besar petani kopi di Kabupaten Lebong menjual hasil panennya dalam bentuk gelondongan atau biji mentah. Akibatnya, nilai tambah dinikmati pihak lain, sementara petani menerima harga yang sering kali tidak stabil.
Program Kopi Merah Putih hadir untuk mengubah pola tersebut. Pada tahap awal, program ini dikembangkan di lahan seluas 20 hektare dengan pendampingan intensif. Petani tidak hanya diajak menanam, tetapi juga diajari cara meningkatkan kualitas, mengolah hasil panen, hingga memahami pasar.
Ketua Kelompok Tani Argo Mulya, Slamet, menyambut baik program tersebut. Ia mengakui bahwa selama ini petani sangat membutuhkan pendampingan nyata, bukan sekadar bantuan sesaat.
“Kami berharap tidak hanya dibantu tanam. Kami ingin dibimbing sampai benar-benar menghasilkan dan bisa menjual dengan harga yang layak,” kata Slamet.
Menurut Slamet, salah satu kebutuhan mendesak petani adalah alat dan mesin pertanian (alsintan). Peralatan yang memadai diyakini dapat mempercepat proses kerja dan meningkatkan kualitas hasil panen.
Gubernur Helmi Hasan merespons langsung aspirasi tersebut. Ia menegaskan bahwa pendampingan tidak akan berhenti di awal program. Pemerintah akan memastikan petani mendapat akses teknologi dan peralatan yang dibutuhkan sesuai kemampuan daerah.
“Kalau mau hasil bagus, alatnya harus mendukung. Ini akan kita perjuangkan bersama,” ucap Helmi.
Selain itu, program ini juga membuka peluang bagi petani untuk belajar mengelola usaha secara lebih profesional. Petani didorong memahami pengemasan, branding, dan pemasaran agar produk kopi mereka memiliki nilai jual lebih tinggi.
Dengan pengolahan yang baik, Kopi Merah Putih diharapkan menjadi identitas baru kopi rakyat Bengkulu. Produk ini tidak hanya membawa nama daerah, tetapi juga menjadi simbol kemandirian petani.
Program ini juga menumbuhkan optimisme baru di kalangan petani muda. Banyak anak muda desa yang mulai melihat pertanian sebagai peluang usaha yang menjanjikan, bukan sekadar pekerjaan turun-temurun.
“Kalau kopi bisa diolah sendiri dan harganya bagus, anak muda tidak perlu ke kota,” ujar salah seorang petani muda.
Melalui Program Kopi Merah Putih, pemerintah berharap kesejahteraan petani meningkat secara nyata. Bukan hanya pendapatan yang naik, tetapi juga martabat dan posisi tawar petani di pasar.
Penulis : Windi Junius
Editor : Redaksi









