NARASIDEMOKRASI – Pekerjaan normalisasi alur pelayaran Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu resmi menuntaskan tahap keduanya. Kedalaman alur kini mencapai 6,5 meter ini angka krusial yang selama bertahun-tahun menjadi hambatan utama bagi kapal-kapal besar yang hendak masuk tanpa menunggu momen pasang laut. Dengan rampungnya tahap II, Pelabuhan Pulau Baai akhirnya memasuki fase operasional baru yang disebut sebagai “babak percepatan” oleh Pelindo Regional II Bengkulu dan KSOP Kelas III Pulau Baai.
Momentum ini tidak hanya menandai selesainya pengerukan fisik, tetapi juga meneguhkan kesiapan seluruh unsur maritim untuk menyambut lonjakan arus barang menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Kehadiran jadwal padat kapal, peningkatan aktivitas bongkar muat, hingga kesiapan infrastruktur darat, kini diyakini akan bergerak selaras dengan alur yang telah dinormalisasi.
General Manager Pelindo Regional II Bengkulu, Dimas Riski Setyadi, mengungkapkan bahwa keberhasilan ini bukan semata hasil kerja teknis, tetapi buah dari kolaborasi intens seluruh pemangku kepentingan. Sejak dirinya ditugaskan ke Bengkulu pada 1 Oktober, komunikasi dan rapat koordinasi dengan KSOP dilakukan hampir tanpa jeda.
“Kami belum lama datang dan sejak itu rapat-rapat dengan Pak KSOP bukan lagi hitungan jam. Ada yang selesai menjelang azan Subuh. Ini menunjukkan bahwa semangat kolaborasi dan harmonisasi sangat penting menyelesaikan tahap dua ini,” ujarnya.
Dimas menegaskan semua pihak kini siap memberikan pelayanan 24 jam non-stop. SOP baru yang sebelumnya terhambat faktor pasang–surut kini telah resmi diberlakukan. Dengan kedalaman 6,5 meter yang stabil, kapal tidak lagi berhitung risiko kedalaman saat masuk maupun saat melakukan manuver di kolam pelabuhan.
“Bengkulu tantangannya tidak sederhana. Kami sempat merasa letih karena tekanan pemberitaan. Namun kami tetap berada di jalur yang tepat. Loss factor kini 100%, alur 6,5 meter sudah siap sepenuhnya,” tegasnya.
Pelindo juga telah menyusun rencana lanjutan. Mulai dari pendalaman alur menuju 12 meter di tahap tiga, revitalisasi terminal curah kering dan curah cair, hingga perbaikan jalur operasional yang kini mulai rusak parah meningat akan mengalami kepadatan pasca alur normal.
“Pulau Baai sudah berbenah. Kami ingin masyarakat tahu bahwa kami siap melayani sepenuh hati. Tagline kami jelas: Bangun Indonesia dari Bumi Merah Putih, Bangun Bumi Merah Putih dari Pelabuhan Pulau Baai,” ujarnya.
Kepala KSOP Kelas III Pulau Baai, Petrus Christianto Maturbongs, merespons capaian ini dengan apresiasi penuh. Ia memastikan bahwa pengerjaan tahap kedua bahkan tuntas lebih cepat dari target semula. Tahap yang seharusnya selesai pada minggu keempat November berhasil terbuka pada 28 November pukul 06.45 WIB.
“Ini apresiasi luar biasa kepada tim pengerukan. Kolaborasi dari awal hingga tanggal 28 November berjalan sangat solid,” kata Petrus.
Namun, ia mengingatkan bahwa pekerjaan belum selesai. Tahap ketiga yang menargetkan kedalaman alur hingga 12 meter akan segera dimulai. Kapal-kapal pengeruk sudah diminta tetap siaga untuk melakukan perawatan selama masa tunggu agar tidak ada kendala teknis ketika tahap berikutnya dimulai.
Petrus juga menegaskan bahwa dengan kedalaman 6,5 meter, kapal-kapal sepanjang 100–110 meter kini dapat masuk langsung tanpa menunggu air laut naik. Waktu tunggu kapal dipastikan berkurang drastis, dan potensi kendala bongkar muat dapat ditekan.
“Pelabuhan Pulau Baai sekarang sudah 24/7. Tidak ada lagi menunggu pasang,” tegasnya.
Salah satu bukti kesiapan operasional adalah dijadwalkannya kedatangan kapal kontainer perdana pada 12 Desember 2025. Ini menjadi momentum bersejarah, karena selama bertahun-tahun masalah kedalaman menjadi penghambat masuknya kapal kontainer besar.
“Kami sarankan media hadir. Ini bukti nyata bahwa alur kita telah pulih,” ujar Petrus.
Tak hanya itu, ekspor cangkang yang sempat terhambat juga akan kembali digerakkan. KSOP bersama pihak Karantina telah menjadwalkan rapat teknis pekan ini untuk memfinalisasi seluruh persiapan ekspor.
KSOP memastikan seluruh hasil sounding kedalaman kolam dan alur akan dibuka kepada pengguna jasa, mulai dari asosiasi pelayaran, pemilik kapal, hingga pemilik barang. Transparansi menjadi komitmen utama agar pelaku usaha memiliki kepastian beroperasi.
“Mulai minus enam sampai minus enam setengah sudah tercapai. Semua transparan. Pengguna jasa harus mendapatkan informasi yang utuh,” tegas Petrus.
Sementara itu Ketua DPC INSA Bengkulu, Rela Sumadiyana, ikut menyoroti sisi teknis pengerukan. Menurutnya, keberhasilan tahap 2 menunjukkan kemampuan Pelindo mengelola proyek maritim berskala besar.
“Kalau alur aman, maka tingkat keselamatan kapal naik. Tidak ada lagi kekhawatiran kandas,” kata Rela
Penulis : Windi Junius
Editor : Redaksi









