NARASIDEMOKRASI – Tak ada yang menyangka, kehabisan bensin bisa berujung petaka. Namun itulah yang dialami Y dan In, dua pemuda di Kota Bengkulu, Minggu (28/12/2025) dini hari.
Di Jalan Bandar Raya, Kelurahan Rawa Makmur, mereka menjadi korban kekerasan brutal gerombolan bermotor yang datang tanpa sebab.Sekitar pukul 03.00 WIB, motor yang mereka kendarai mogok karena kehabisan bahan bakar. Jalanan sepi, toko tutup, dan hanya lampu jalan yang menemani.
Mereka memutuskan mendorong motor menuju pangkalan bensin terdekat.Namun langkah itu justru membawa petaka.
“Tiba-tiba datang kelompok motor. Langsung menyerang,” kata Yoga, kakak Y.
Tanpa dialog, tanpa konflik, serangan dimulai. Botol kaca menghantam tubuh korban, dan senjata tajam jenis pedang diayunkan ke arah wajah In. Darah mengalir, teriakan minta tolong pecah di tengah malam.
“Adik saya luka karena botol. Temannya kena bacok di wajah,” ujar Yoga.
Penyerang diperkirakan berjumlah enam hingga tujuh orang. Mereka menggunakan tiga sepeda motor, berboncengan, dan bergerak cepat. Aksi itu berlangsung singkat, namun cukup untuk meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Warga sekitar memilih berdiam diri. Tak ada yang berani melawan kelompok bersenjata tajam tersebut. Setelah menyerang, pelaku langsung melarikan diri.
Korban dilarikan ke fasilitas kesehatan untuk mendapat perawatan. Luka bacok di wajah menjadi bukti betapa rawannya jalanan kota saat malam hingga dini hari.
Kasat Reskrim Polresta Bengkulu, Sujud Alif Yulamlam, menyatakan polisi telah mengetahui kejadian tersebut dan meminta korban segera membuat laporan resmi.
“Kami arahkan korban untuk melapor agar bisa ditindaklanjuti. Belum bisa dipastikan apakah ini geng motor,” katanya.
Fenomena kekerasan jalanan ini terus menghantui Bengkulu. Dua tahun terakhir, aksi serupa kerap terjadi. Ironisnya, banyak pelaku masih berusia belia—pelajar yang seharusnya berada di rumah atau sekolah, bukan berkeliaran membawa senjata tajam.
Penanganan kasus kerap berujung dilema. Pelaku dewasa diproses hukum, sementara pelaku di bawah umur dikembalikan ke orang tua dengan alasan pembinaan.
Keamanan malam hari menjadi sorotan. Minimnya patroli di jam rawan, lemahnya pengawasan terhadap aktivitas kelompok bermotor, serta kurangnya peran keluarga dan lingkungan disebut sebagai faktor pemicu.
Kasus di Jalan Bandar Raya menjadi alarm keras. Kota yang ingin tumbuh aman dan nyaman tak boleh membiarkan warganya takut melintas di jalan sendiri.









