NARASIDEMOKRASI – Pemulihan akses telekomunikasi di wilayah Aceh yang paling parah dihantam banjir dan longsor mulai menunjukkan titik terang. Sejak Jumat (5/12/2025), aktivitas jaringan seluler perlahan kembali dirasakan masyarakat setelah serangkaian upaya darurat dilakukan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama operator telekomunikasi dan sejumlah lembaga terkait.
Namun pekerjaan di lapangan bukan tanpa kendala. Suplai listrik yang belum stabil masih menjadi batu sandungan terbesar dalam menghidupkan kembali layanan telekomunikasi di sejumlah kawasan yang terputus akibat bencana hidrometeorologi.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, memastikan pemerintah terus bekerja siang dan malam untuk memulihkan konektivitas, terutama di kabupaten yang paling terisolir. Hal tersebut disampaikan Wamenkomdigi dalam konferensi pers di Media Center Posko Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh yang ditempatkan di Lobi Kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh.
“Kami berterima kasih kepada Telkomsel, Indosat, XL, dan Smartfren yang bekerja tanpa henti untuk menormalkan jaringan telekomunikasi di Aceh. Pemerintah juga berkoordinasi dengan PLN untuk memulihkan pasokan listrik. Begitu listrik stabil, 90 persen jaringan bisa kembali pulih,” ujar Nezar.
Di sejumlah titik, menara base transreceiver station (BTS) hanya dapat beroperasi secara terbatas karena listrik padam dan harus mengandalkan genset. Padahal, tidak semua genset dapat bekerja 24 jam penuh.
Wamenkomdigi menegaskan bahwa selain memperbaiki infrastruktur, pemerintah kini memprioritaskan mobilisasi genset ke lokasi-lokasi BTS.
“Tanpa listrik cukup, sinyal akan terus hidup-mati. Kita sudah berkoordinasi dengan Pertamina agar pasokan BBM untuk wilayah kritikal dijaga penuh. Laporan terakhir menyebut suplai BBM terus mengalir, baik lewat darat maupun laut,” jelasnya.
Selain perbaikan jaringan darat, pemerintah dan operator bergerak cepat membuka akses telekomunikasi berbasis satelit. Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) menurunkan tim ke lokasi-lokasi terisolir.
Access point berbasis satelit telah dipasang di Aceh Tamiang—salah satu wilayah terdampak terparah—dan kini mulai membantu ribuan warga untuk berkomunikasi kembali.
“Kemarin kita sudah masuk ke Aceh Tamiang. Access point satelit sangat membantu para pengungsi di Tamiang dan Kuala Simpang untuk memberi kabar kepada keluarga,” kata Nezar.
Wilayah Aceh Tamiang memang mencatat jumlah terdampak terbesar dalam bencana kali ini. Sebanyak 310.480 warga dari 12 kecamatan terdampak, dan lebih dari 278 ribu jiwa mengungsi akibat banjir besar dan akses jalan yang tertutup longsor.
Sebagai penguatan, Kementerian Komdigi telah mendistribusikan 20 unit Starlink untuk provinsi-provinsi yang terdampak. Dari jumlah tersebut: 6 unit dikirim ke Aceh Tamiang melalui kapal Basarnas. 3 unit untuk Aceh Tengah. 3 unit untuk Gayo Lues. 3 unit untuk Aceh Tenggara. 3 unit untuk Bener Meriah (2 unit tambahan dalam perjalanan). 1 unit untuk Pidie Jaya (ditambah 2 unit tambahan). 1 unit untuk Bireuen. 2 unit menuju Lhokseumawe untuk pemasangan di Lokop bersama Danrem Lilawangsa
Langkah ini dilakukan untuk memastikan jaringan tetap tersedia di wilayah yang sulit dijangkau oleh fiber optik atau BTS darat.
Di luar perbaikan teknis, Kementerian Komdigi juga membangun Posko Komunikasi dan Media Center guna mendukung koordinasi informasi tanggap darurat.
Posko tersebut sekaligus menjadi ruang kerja jurnalis, pusat penyelenggaraan konferensi pers, dan pusat komando informasi lapangan.
Penempatan posko: Aceh: Gedung Sekretariat Daerah Provinsi Aceh Sumatra Barat: Kompleks Kantor Gubernur Sumbar. Sumatra Utara: Gedung Kwarda Gerakan Pramuka Sumut. GOR Pandan, Tapanuli Tengah. Posko Dukungan Psikososial, Hamparan Perak, Deli Serdang
Balai Monitoring (Balmon) di masing-masing wilayah juga aktif melakukan pengawasan intensif untuk memastikan stabilitas jaringan, terutama dalam masa tanggap darurat ketika komunikasi sangat krusial.
Bagi pemerintah, akses komunikasi bukan sekadar layanan teknis—melainkan kebutuhan vital bagi warga, relawan, aparat, hingga tim SAR dalam mempercepat evakuasi dan penanganan bencana.
Pemulihan jaringan di Aceh terus dikejar agar masyarakat bisa kembali terhubung, terutama mereka yang berada di pengungsian dan daerah yang sempat terisolir.
Pemerintah berharap dengan stabilisasi listrik dan tambahan perangkat satelit, pemulihan jaringan telekomunikasi di Aceh dapat mendekati 100 persen dalam waktu dekat.









