BENGKULUBAROMETER – Pemerintah Provinsi Bengkulu bergerak cepat merespons keluhan petani sawit yang resah akibat turunnya harga tandan buah segar (TBS) dalam dua pekan terakhir.
Melalui Wakil Gubernur Bengkulu Mian, pemerintah mengumpulkan seluruh perusahaan kelapa sawit untuk mencari solusi dan memastikan harga sawit petani kembali sesuai ketetapan provinsi.
Mian mengatakan, banyak laporan yang diterima pemerintah terkait penurunan harga TBS di sejumlah pabrik kelapa sawit (PKS).
Kondisi tersebut membuat petani khawatir karena harga jual sawit mereka turun cukup tajam dalam waktu singkat.
“Selama dua minggu terakhir masyarakat dan petani sawit menyampaikan keluhan kepada pemerintah. Karena itu kami langsung bergerak,” ujar Mian.
Pemprov Bengkulu kemudian mengutus tim untuk melakukan audiensi dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan di Jakarta.
Tujuannya untuk memastikan apakah terdapat kebijakan baru yang dapat memengaruhi harga sawit di daerah.
Hasil audiensi menunjukkan tidak ada kebijakan pemerintah pusat yang mengharuskan perusahaan menurunkan harga pembelian TBS dari petani.
Bahkan, pemerintah pusat menegaskan harga ekspor crude palm oil (CPO) masih dalam kondisi baik.
Atas dasar itu, Pemprov Bengkulu meminta seluruh perusahaan sawit kembali menerapkan harga TBS sesuai ketetapan pemerintah daerah.
Dalam pertemuan tersebut, mayoritas perusahaan menyatakan sepakat mengikuti harga yang telah ditetapkan.
“Kita ingin petani mendapatkan harga yang adil. Karena itu perusahaan harus mengikuti harga yang sudah disepakati,” kata Mian.
Langkah pemerintah ini mendapat perhatian luas dari petani sawit yang selama ini berharap ada kepastian harga di tingkat pabrik.









