NARASIDEMOKRASI – Kelangkaan LPG 3 kilogram kembali terjadi di Kota Bengkulu menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Ironisnya, kondisi ini terjadi ketika Pertamina justru mengklaim telah menambah pasokan LPG untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadan.
Situasi ini memunculkan kritik terhadap sistem distribusi gas bersubsidi yang dinilai belum sepenuhnya berjalan efektif.
Keluhan masyarakat mulai bermunculan dari berbagai wilayah di Kota Bengkulu. Warga mengaku kesulitan mendapatkan LPG 3 kilogram di pangkalan resmi maupun warung.
Sebagian bahkan harus membeli gas melon dengan harga yang melonjak hingga Rp 50 ribu per tabung.
Pemerintah Kota Bengkulu melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) akhirnya turun tangan merespons keluhan tersebut.
Kepala Disperindag Kota Bengkulu Alex Pebriansyah mengatakan pihaknya saat ini sedang melakukan pengawasan distribusi LPG mulai dari agen hingga pangkalan.
“Upaya yang dilakukan pengawasan gas elpigi di tingkat agen dan pangkalan,” kata Alex.
Ia menjelaskan bahwa kelangkaan LPG diduga dipicu oleh meningkatnya konsumsi masyarakat selama bulan Ramadan.
Banyaknya usaha mikro dadakan yang muncul saat bulan puasa disebut turut meningkatkan penggunaan gas melon.
Namun di sisi lain, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel menyatakan bahwa pasokan LPG sebenarnya telah diperkuat.
Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Erwin Dwiyanto mengatakan Pertamina telah menambah pasokan LPG 3 kilogram untuk wilayah Bengkulu.
Penambahan tersebut mencapai sekitar 215 metrik ton.
Langkah itu disebut sebagai bagian dari kesiapan Pertamina menghadapi peningkatan konsumsi energi selama periode Ramadan dan Lebaran.
Selain LPG, Pertamina juga menambah stok BBM seperti Pertalite dan Pertamax untuk mengantisipasi peningkatan aktivitas masyarakat selama mudik.
Namun pernyataan tersebut memicu pertanyaan di tengah masyarakat. Jika pasokan benar-benar ditambah, mengapa LPG 3 kilogram masih sulit ditemukan di banyak pangkalan?
Beberapa warga menilai persoalan yang terjadi bukan sekadar peningkatan konsumsi, melainkan distribusi yang tidak merata.
Gas melon yang seharusnya mudah diakses masyarakat kecil justru sering kali menghilang dari pangkalan ketika permintaan meningkat.
Kondisi ini diperparah dengan maraknya penjualan LPG di tingkat pengecer dengan harga jauh di atas harga resmi.
Pemerintah Kota Bengkulu sendiri mengakui adanya potensi kenaikan harga di tingkat warung atau pengecer
Namun Alex menegaskan bahwa harga di pangkalan resmi tidak mengalami kenaikan.
Untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan, Disperindag berencana kembali melakukan inspeksi ke sejumlah pangkalan LPG di Kota Bengkulu.
Selain itu, Wali Kota Bengkulu juga telah mengeluarkan surat edaran agar LPG 3 kilogram digunakan secara tepat sasaran.
Melalui kebijakan tersebut, aparatur sipil negara, PPPK, dan pelaku usaha dengan modal besar diminta tidak menggunakan LPG bersubsidi.
Mereka diminta beralih ke tabung gas nonsubsidi seperti Bright Gas 5 kilogram atau 12 kilogram.
Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap distribusi gas melon yang diperuntukkan bagi masyarakat kecil.
Namun bagi warga, solusi tersebut belum cukup menjawab persoalan utama, yakni kelangkaan gas yang terus berulang setiap Ramadan.
Publik kini menunggu langkah nyata dari Pertamina untuk memastikan distribusi LPG benar-benar berjalan merata hingga tingkat pangkalan.
Penulis : Windi Junius
Editor : Redaksi









