NARASIDEMOKRASI – Realisasi investasi di Provinsi Bengkulu masih menghadapi tantangan serius. Data menunjukkan, capaian investasi sepanjang 2025 baru mencapai sekitar Rp3,03 triliun atau 26,32 persen dari target Rp11,5 triliun. Fakta ini menjadi sorotan utama dalam gelaran Bencoolen Investment Gathering (BIG) RIRU Provinsi Bengkulu Tahun 2026.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, memaparkan bahwa kinerja investasi Bengkulu belum menunjukkan akselerasi yang signifikan. Bahkan, capaian tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Wahyu, rendahnya realisasi investasi tidak bisa dilihat secara sederhana. Ada berbagai faktor struktural yang mempengaruhi, mulai dari kesiapan proyek hingga keterbatasan infrastruktur penunjang. Selain itu, kelengkapan dokumen dan ketersediaan data tata ruang masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah.
Secara spasial, investasi di Bengkulu masih terkonsentrasi di Kota Bengkulu. Sementara kabupaten-kabupaten lain belum menikmati arus investasi secara merata. Kondisi ini menunjukkan perlunya strategi pemerataan investasi agar pertumbuhan ekonomi tidak terpusat di satu wilayah saja.
Dari sisi sektoral, investasi di Bengkulu masih didominasi sektor tanaman pangan, perkebunan, peternakan, industri makanan, perdagangan, serta transportasi dan pergudangan. Meski sektor-sektor tersebut penting, ketergantungan yang terlalu besar dinilai berisiko jika tidak diimbangi dengan diversifikasi sektor investasi.
Forum BIG RIRU 2026 menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap strategi investasi daerah. Pemerintah Provinsi Bengkulu menilai perlunya perbaikan dari hulu ke hilir, termasuk dalam mempersiapkan proyek investasi yang benar-benar investment ready.
Asisten II Setda Provinsi Bengkulu, R.A. Denni, menegaskan bahwa peningkatan investasi tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri oleh satu perangkat daerah. Dibutuhkan koordinasi lintas sektor yang kuat serta kesamaan visi antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.
“Kita tidak bisa lagi bekerja secara terpisah. Investasi membutuhkan orkestrasi yang rapi, mulai dari perencanaan, perizinan, hingga eksekusi di lapangan,” ujarnya.
Salah satu fokus pembenahan adalah penguatan peran RIRU sebagai pusat koordinasi investasi daerah. Melalui RIRU, seluruh potensi dan proyek unggulan Bengkulu diharapkan dapat dipetakan dengan lebih sistematis dan dipromosikan secara efektif kepada investor.
BIG RIRU 2026 diharapkan menjadi titik balik dalam pengelolaan investasi daerah. Tidak hanya untuk meningkatkan angka realisasi, tetapi juga untuk memastikan investasi yang masuk memberikan dampak nyata bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Bengkulu.
Penulis : Windi Junius
Editor : Redaksi









