NARASIDEMOKRASI – Terputusnya aliran listrik menjadi salah satu dampak paling serius pasca banjir dan longsor yang melanda Aceh Tengah dan Bener Meriah. Kondisi ini membuat aktivitas warga lumpuh, terutama saat malam hari.
Melihat situasi tersebut, Himpunan Pertashop Merah Putih Indonesia (HPMPI) turun tangan dengan menghadirkan solusi energi bersih berupa alat penerangan tenaga surya atau solar cell.Ketua Umum HPMPI, Steven, menjelaskan bahwa pasokan listrik merupakan kebutuhan mendasar dalam masa darurat. Tanpa penerangan, risiko keamanan meningkat dan proses pemulihan menjadi jauh lebih sulit.
“Bayangkan jika malam hari gelap total. Warga tidak bisa beraktivitas, anak-anak takut, dan relawan pun kesulitan bergerak,” ujar Steven.
Atas dasar itu, HPMPI menyalurkan sekitar 250 unit solar cell yang dapat digunakan secara mandiri oleh warga. Alat ini tidak memerlukan bahan bakar dan tetap dapat berfungsi meski jaringan listrik utama rusak.
Menurut Steven, bantuan tersebut juga merupakan respons atas permohonan dari pemerintah daerah yang menyampaikan keterbatasan dalam pemulihan infrastruktur listrik.
“Solar cell menjadi solusi cepat, aman, dan ramah lingkungan untuk kondisi darurat,” katanya.
Pengiriman bantuan dilakukan langsung dari Bengkulu menuju Aceh melalui jalur darat. Meski jarak tempuh panjang dan medan berat, HPMPI tetap berkomitmen memastikan bantuan tiba ke lokasi terdampak.
Steven menambahkan, penggunaan energi surya juga menjadi bagian dari edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya kemandirian energi, terutama di wilayah rawan bencana.
“Krisis seperti ini menunjukkan bahwa energi bersih sangat dibutuhkan, bukan hanya untuk masa depan, tapi juga saat darurat,” ucapnya.
Dengan adanya solar cell, warga kini dapat kembali beraktivitas di malam hari, menjaga keamanan lingkungan, serta mendukung pemulihan ekonomi dan sosial pasca bencana.









