Bengkulu – Ancaman krisis iklim kini semakin nyata di depan mata. SMA Negeri 1 Kota Bengkulu, yang terletak kurang dari 1 kilometer dari bibir pantai, menjadi salah satu lokasi yang diprediksi akan terdampak langsung oleh kenaikan permukaan air laut akibat perubahan iklim.
Hal ini terungkap dalam kegiatan Roadshow Sekolah Energi Bersih yang digelar pada Kamis (2/10), dihadiri lebih dari 150 siswa. Acara ini bertujuan memberikan edukasi tentang krisis iklim serta pentingnya transisi energi dari fosil ke energi baru dan terbarukan.
Dalam penyampaian, Asma Nadia Harapan, Kanopi Hijau Indonesia, menegaskan bahwa lokasi SMA N 1 Kota Bengkulu termasuk zona rawan yang sangat rentan tenggelam jika suhu bumi terus meningkat.
“Jika suhu bumi naik terus, maka kawasan ini bisa menjadi bagian dari wilayah yang hilang akibat kenaikan muka air laut. Artinya, sekolah ini tidak hanya berisiko rusak, tetapi berpotensi benar-benar tenggelam,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Kota Bengkulu, Syahroni, M. Pd menyatakan dukungan penuh terhadap program transisi energi bersih, menegaskan pentingnya peran pendidikan dalam mendorong perubahan menuju masa depan yang berkelanjutan.
“Kami di SMA Negeri 1 Kota Bengkulu memberikan dukungan penuh terhadap program transisi energi bersih. Sebagai institusi pendidikan, kami memiliki tanggung jawab moral untuk menanamkan kesadaran lingkungan kepada generasi muda. Kegiatan edukatif seperti ini sangat penting, karena mampu membangun pemahaman dan kepedulian siswa terhadap masa depan bumi kita. Kami bangga melihat antusiasme siswa yang tinggi, dan kami percaya bahwa perubahan nyata bisa dimulai dari Sekolah,” ungkap Syahroni.
Dalam kegiatan edukatif yang digelar, mereka menyuarakan kegelisahan nyata terhadap kondisi lingkungan dan masa depan sekolah mereka. Dalam forum terbuka, para siswa dengan tegas menyatakan bahwa transisi menuju energi bersih bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Mereka sepakat perubahan harus dimulai sekarang dan dimulai dari sekolah.
Ramona Alesia, siswi SMA 1 Negeri Kota Bengkulu mengatakan, tentang dampak krisis iklim terhadap wilayah pesisir, para siswa mulai menyadari ancaman nyata yang mengintai lingkungan sekitar mereka.
“Krisis iklim sekarang sudah semakin parah, disebabkan oleh berbagai faktor yang nyata. Bahkan, ada kemungkinan SMA Negeri 1 Kota Bengkulu bisa tenggelam dalam jangka waktu yang tidak terlalu dekat,” tutup Ramona.
Donasi publik untuk pembangunan pembangkit energi terbarukan di sekolah-sekolah kota Bengkulu, termasuk SMA Negeri 1 Kota Bengkulu yang berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp 550.000, menunjukkan aksi nyata dalam menghadapi krisis iklim.
Kegiatan ini menegaskan bahwa perubahan iklim bukan hanya isu global, tetapi juga ancaman nyata bagi kehidupan masyarakat lokal. Roadshow ini mencerminkan komitmen kuat berbagai pihak untuk meningkatkan kesadaran publik dan mempercepat transisi menuju energi bersih di semua level. (rls)









