NARASIDEMOKRASI – Di tengah tren nongkrong anak muda, Belungguk Point hadir dengan konsep berbeda. Melalui Car Free Night (CFN), kawasan ini bukan hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga ruang terbuka untuk mengenal budaya Bengkulu.
Setiap malam Minggu, generasi muda memenuhi area ini. Namun yang menarik, mereka tak hanya duduk dan bercengkerama. Tanpa disadari, mereka bersentuhan langsung dengan simbol-simbol budaya lokal yang ditanamkan dalam desain kawasan.
Motif batik basurek menghiasi lantai, sementara alat musik dol dimanfaatkan sebagai elemen ruang duduk. Semua itu dirancang agar budaya tidak terasa kaku, tetapi hadir alami dalam aktivitas sehari-hari.
Viola, salah satu pengunjung, mengaku awalnya datang hanya untuk nongkrong. Namun lama-kelamaan ia mulai memperhatikan detail budaya di sekitar Belungguk Point.
“Awalnya cuma duduk-duduk. Lama-lama jadi sadar, oh ini motif batik Bengkulu, ini dol. Jadi belajar tanpa merasa digurui,” ujarnya.
Konsep ini dinilai efektif untuk mendekatkan budaya kepada Gen Z. Alih-alih lewat ceramah atau acara seremonial, budaya diperkenalkan melalui ruang publik yang akrab dengan keseharian anak muda.
Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi sebelumnya menegaskan bahwa Belungguk Point memang dirancang sebagai ruang yang memadukan modernitas dan identitas lokal. Tujuannya agar generasi muda tetap bangga dengan budayanya di tengah arus globalisasi.
CFN menjadi momentum paling tepat untuk konsep ini. Saat jalanan bebas kendaraan, ruang publik sepenuhnya milik warga. Anak muda, keluarga, hingga wisatawan dapat menikmati suasana kota tanpa polusi dan kebisingan.
Bagi Sofia Andesta, keberadaan unsur budaya membuat Belungguk Point berbeda dari tempat nongkrong lain.
“Rasanya lebih punya ciri khas. Kita nongkrong di Bengkulu, ya nuansanya Bengkulu,” katanya.
Pengamat budaya lokal menilai pendekatan ini penting untuk menjaga kesinambungan budaya daerah. Generasi muda tidak dipaksa mencintai budaya, tetapi diajak hidup berdampingan dengannya.
Dengan CFN, Belungguk Point kini berfungsi layaknya “kelas terbuka” budaya Bengkulu. Tanpa papan tulis, tanpa dosen, tetapi penuh pengalaman.









