NARASIDEMOKRASI – Misi kemanusiaan tak selalu tentang seremoni penyerahan bantuan. Kadang, ia hadir dalam bentuk perjalanan panjang, jalan berliku, tubuh lelah, dan tekad yang terus dijaga. Itulah yang dialami para relawan Himpunan Pertashop Merah Putih Indonesia (HPMPI) saat mengantarkan ratusan solar cell ke wilayah terdampak bencana di Aceh.
Perjalanan itu bermula dari Bengkulu, menembus lintas provinsi di Pulau Sumatra. Bukan perjalanan singkat. Rombongan relawan membawa logistik bantuan sambil menghadapi kondisi jalan yang tak selalu bersahabat. Hujan, medan rusak, hingga jalur pegunungan menjadi teman sepanjang perjalanan.
Ketua Umum HPMPI, Steven, menuturkan bahwa perjalanan kemanusiaan ini sempat singgah di Medan untuk mengambil pasokan tambahan. Dari sanalah tantangan sebenarnya dimulai.
“Dari Medan menuju Aceh, perjalanan darat kami tempuh sekitar 14 jam. Itu belum termasuk perjalanan lanjutan sekitar empat jam lagi menuju lokasi penyaluran bantuan,” ujar Steven.
Jalur menuju Kabupaten Bener Meriah dikenal berliku dan menanjak. Di beberapa titik, jalan sempit memaksa kendaraan berjalan perlahan. Di sisi lain, jurang dan hutan lebat menguji konsentrasi pengemudi. Namun, tak satu pun relawan mengeluh. Mereka tahu, di ujung perjalanan ada harapan yang sedang menunggu.
Meski pemerintah daerah telah menetapkan status pemulihan pascabencana, kenyataan di lapangan masih menyisakan luka. Banyak rumah warga belum sepenuhnya diperbaiki. Yang paling terasa, listrik belum kembali normal.
“Di beberapa desa, saat malam hari benar-benar gelap. Tidak ada penerangan sama sekali. Ini tentu menyulitkan warga, terutama anak-anak dan lansia,” kata Steven.
Berangkat dari kondisi tersebut, HPMPI memilih solar cell sebagai bentuk bantuan utama. Energi surya dinilai sebagai solusi cepat dan relevan untuk daerah terdampak bencana. Tanpa bergantung pada jaringan listrik utama, solar cell dapat langsung dimanfaatkan warga.
Sebanyak 250 unit solar cell disalurkan ke masyarakat di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Penyaluran dilakukan langsung oleh relawan agar bantuan benar-benar sampai ke tangan yang membutuhkan.
Namun misi ini tak berhenti pada penyerahan alat. Para relawan juga turun langsung memberikan pendampingan teknis. Warga diajarkan cara memasang panel, mengatur penggunaan daya, hingga merawat perangkat agar bisa digunakan dalam jangka panjang.
“Kalau hanya dibagikan tanpa edukasi, risikonya alat cepat rusak atau tidak dimanfaatkan maksimal,” ujar Steven.
Lelah 14 jam perjalanan seolah terbayar lunas saat malam tiba dan lampu-lampu kecil mulai menyala di rumah warga. Anak-anak kini bisa belajar tanpa harus bergantung pada lilin. Aktivitas memasak, berkumpul, dan beribadah kembali terasa normal.
Bagi relawan HPMPI, momen itu menjadi pengingat bahwa bantuan sekecil apa pun bisa membawa perubahan besar. Steven berharap, aksi ini tak hanya membantu pemulihan masyarakat Aceh, tetapi juga mengetuk nurani lebih banyak pihak.
“Kemanusiaan adalah kerja bersama. Kalau semakin banyak yang bergerak, semakin cepat pula cahaya kembali hadir di tempat-tempat yang gelap,” katanya.
Di balik perjalanan panjang dan medan berat, para relawan HPMPI membuktikan satu hal. cahaya harapan sering kali lahir dari langkah-langkah kecil yang ditempuh dengan hati besar.
Penulis : Windi Junius
Editor : Redaksi









