Hai..
Apakah kalian mendengar sesuatu? Suara ledakan tembakan pistol dan misil di atas kokohnya bumi? Suara riuh jet tempur yang mengintai di langit yang bebas? Dan juga gema teriakan dan tangisan kesakitan merongrong sedih di udara yang beraroma bubuk mesiu? Tragis!
Manusia selalu mencoba untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Menggapai banyak hal yang sebelumnya selalu jadi angan-angan untuk menjadi kenyataan. Dengan dalih kehidupan bebas yang lebih baik. Manusia membuang semuanya. Ya. Membuang kedamaian.
Wajar jika manusia mempunyai rasa ingin bahagia. Namun semua usaha yang mungkin di lakukan dapat menjadi hal yang rapuh seperti pisau putih yang dengan mudah bisa ternoda oleh darah yang tidak bersalah. Dan itulah akibat dari rasa serakah. Rasa ingin mengusaia semua hal untuk menjadi superior melalui Tindakan negoisasi, penghasutan, dan bahkan kekerasan. Menganggap kekuatan adalah magnet yang bisa menundukan kepala manusia ke tanah yang suci. Mengabaikan moral, serta kehendak alam untuk mewujudkan kehidupan damai tanpa geletakan mayat dari manusia tak bersalah korban dari keegoisan strata tertinggi dalam kehidupan. Dengan beringas, hak hidup manusia lain di rampas. Menebar terror dengan senjata tajam dan ledakan bom yang memecahkan keheningan malam yang larut.
Manusia selalu mengakui bahwa sudut pandang adalah satu satunya perbedaan yang harus di waspadai. Kenapa? Karena sudut pandang dapat mempengaruhi empati dan simpati antar manusia. Tentu saja kurangnya kedua rasa dasar toleransi itu mampu mengibarkan perang panjang yang tak berkesudahan, atau hal baiknya. itu malah bisa mengakhirinya.
Ironisnya, kebanyakan manusia malah mempermasalahkan hal materil sebagi pembeda dan menjadikannya sebagai sekat tebal dalam kehidupan Bersama. Warna kulit, kontur wajah, logat dan garis darah. Menyedihkan, dengan mudahnya terpecah belah olah hal remeh-temeh yang di sebut perbedaan.
Mungkin aku harus menulis pengumuman di langit bahwa, Pelangi itu indah karena mereka tidak sewarna. Berbeda Bersama cipatakan terangnya Pelangi, bukan gelapnya perang. Apapun alasan untuk berperang, semoga bukan karena keegoisan dan keserakahan. Namun sepertinya itu mustahil. Karena orang yang tidak egois dan tidak serakah akan selalu menginginkan kehidupan yang tenang, bukannya perang.
Hal lain yang selalu di inginkan manusia adalah rasa damai terlepas dari derita ketakutan dan belenggu ancaman penjajahan. Harga mati dari kehidupan adalah kebebasan. Idealnya memang seperti itu. Namun, inilah kehidupan. Kenyataan selalu menyediakan ruang emosional penuh kejutan. Termasuk ketakutan yang hadir dari ancaman manusia-manusia yang lebih besar. Mempertahankan diri adalah hal yang lumrah dilakukan. Isnting untuk hidup selalu menimbulkan perlawanan,atau hal menyedihkannya adalah kepasarahan. Hal pahitnya adalah, sudah hukum alam ketertindasan menjadi milik mereka yang lemah. Bukannya menyalahkan takdir atau usaha yang tak berarti. Tapi itulah kenyataannya. Tak pandang umur dan jenisnya. Korban akan selalu menderita. Berita sedihnya, alam yang tak memihak dan penuh kesucian pun menjadi korban peperangan manusia yang katanya mahkluk sempurna.
Lalu, apakah manusia sebenarnya bisa mememilih? Dalam hal ini, manusia lemah yang terdampak perang bisa berbuat apa selain pasrah dan memohon ampunan? Enggannya rasa melawan karena ketakuan akan kematian tentu akan menuntun pada perbudakan. Bagaimanapun keadaannya, apakah itu pekerjaan tanpa upah, perbuatan tanpa kesepakatan, atau bahkan keselamatan dalam kurungan ketidak berdayaan adalah bentuk dari perbudakan. Jika manusia memilih perbudakan, wajar bukan? Mereka memiliki kehidupan yang harus di teruskan. Di sisi lain, manusia yang berjiwa kuat serta menjunjung tinggi kebebasan akan segera melawan. Mengembil dan memegang apapun yang bisa di gunakan untuk melawan. Mulai dari senjatan rampasan, ranting kayu yang bapuk, batu kecil yang tajam, hingga tulang patah yang mencuat dari tangan para pejuang. Jika ada, melawan dengan senjata. Tanpa senjata, melawan dengan tubuhnya. Tanpa tubuh yang bergerak, melawan dengan umpatan, dan jika nyawa terlepas dari raga, melawan dengan kutukan. Segala acara mesti dilakukan. Karena ada hidup yang harus di perjuangkan.
Kembali lagi. Hanya ada 2 pemimpin dari masing-masing kubu yang berseberangan. Para tentara serta manusia sipil yang nuraninya berkecamuk dipaksa menuruti perintah. Tanpa bisa membantah, hanya bergerak pasrah. Menolak perang dan ingin kedamaian berlangsung. Bisa berakhir di tiang gantung. Kebimbangan atas kehidupan yang sulit untuk dipilih.
Apapun yang mendasari perang. Semoga bukan karena keegoisan dan keserakahan
Siapapun kubu yang berperang. Semoga yang menang adalah kemanusiaan, bukannya keegoisan dan keserakahan.
Berapapun jumlah manusia dan senjata dalam perang. Semoga diberikan keselamatan, bukannya berakhir menjadi abu atau arang.
Kapanpun terjadinya perang. Semoga bisa menjadi akhir dari kekacauan dan menjadi mula dari perdamaian.
Bagaimanamun jalannya perang. Semoga tidak menghasilkan derita dari perbudakan.
Apapun hasilnya. Semoga tidak menjadi luka yang menganga bagi kehidupan.
Teruntuk semua manusia. Tuhan tidak menganugerahi kita dengan “ sudut pandang orang ketiga “ sehingga kita masih harus meraba-raba tentang isi kepala manusia lainnya. Namun, Tuhan memberikan hadiah dalam bentuk “moral” yang seharusnya memberikan kita cara untuk bisa saling berempati dan bersimpati antar manusia. Mari kita saling menghargai, menghormati, memahami satu sama lainnya. Karena aku yakin, kehidupan terlalu indah untuk disia-siakan dengan berperang. Tolong ingat. Nyawa adalah hal yang sangat berharga serta di luar kuasa manusia. Alam adalah arena bermain indah yang diberikan Tuhan sebagai hadiah. Kehidupan adalah suatu perjalanan yang seharusnya diisi hal menyedihkan dan menyenangkan namun bukan karena perang.
Tentunya idealisme perdamaian hidup tanpa peperangan akan sulit didapatkan. Salah satunya karena banyaknya pikiran dan perasaan produk dari milyaran manusia di dunia. Karena hal “ideal” pasti tidak dapat di tegakkan (Aku benar benar pesimis tentang ini). Maka, menghindar atau meminimalkan bisa menjadi jawaban. Mungkin tidak selamanya manusia harus menghadapi masalah. Menghindar, meminimalisir, atau bahkan mengbiarkan masalah terkadang adalah pilihan tepat untuk meminimalisir kerugian. Sekali lagi, apapun alasannya. Perang bukanlah pilihan bijak dalam kehidupan.









