NARASIDEMOKRASI – Memanen satu hektare padi secara manual bisa memakan waktu dua hingga tiga hari. Di Desa Tirta Mulya, Kabupaten Mukomuko, Kelompok Tani Mekar Sari kini memiliki mesin yang diperkirakan mampu menyelesaikan pekerjaan pada lahan seluas itu dalam waktu sekitar 1,5 hingga 2,5 jam.
Mesin pemanen padi atau Combine Harvester itu diserahkan Wakil Gubernur Bengkulu Mian bersama Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, Rabu (4/11/2026) pagi. Kelompok Tani Mekar Sari menerima satu unit melalui kerja sama Pemerintah Provinsi Bengkulu dan BI Bengkulu.
Mian mengatakan waktu panen yang lebih singkat akan meringankan pekerjaan petani. Perbandingan dua hingga tiga hari dengan 1,5 hingga 2,5 jam menggunakan ukuran lahan yang sama, yakni satu hektare. Dengan demikian, petani bisa melihat perubahan yang diharapkan dari mesin tersebut pada tahap panen.
“Dengan alat ini, pekerjaan petani menjadi lebih ringan, biaya panen bisa ditekan, dan waktu pengerjaan jauh lebih singkat. Harapannya, hasil pertanian semakin optimal dan kesejahteraan petani juga meningkat,” ujar Mian.
Combine Harvester menggabungkan beberapa pekerjaan dalam satu proses. Saat bergerak di sawah, mesin memotong tanaman padi, memisahkan gabah dari tangkainya, lalu menampung gabah. Cara kerja itu membantu menjelaskan mengapa waktu yang dibutuhkan bisa lebih singkat daripada panen manual.
Menurut Wahyu, kemampuan alat dalam mengumpulkan gabah menjadi salah satu manfaat yang diharapkan BI Bengkulu. Ia ingin bantuan tersebut digunakan secara maksimal agar kelompok tani bisa merasakan manfaatnya saat bekerja di sawah.
“Alat Combine Harvester ini sangat baik untuk membantu proses panen. Gabah dapat terkumpul dengan lebih optimal sehingga proses pemanenan menjadi lebih efektif dan efisien. Kami berharap bantuan ini benar-benar memberikan manfaat bagi petani,” katanya.
Bagi kelompok tani, selisih waktu tersebut dapat membantu dalam menyusun jadwal panen. Jika pekerjaan di satu petak selesai lebih cepat, waktu penggunaan mesin bisa diatur untuk petak berikutnya. Perkiraan 1,5 hingga 2,5 jam yang disampaikan Mian berlaku untuk satu hektare, sehingga waktu untuk mengerjakan sejumlah petak tetap perlu diperhitungkan sesuai luas lahan yang dipanen.
Selain mempersingkat pekerjaan, penggunaan mesin diperkirakan menurunkan biaya panen. Mian menyebut biaya panen manual dapat mencapai sekitar Rp3 juta per hektare. Dengan mesin, kebutuhan bahan bakar diperkirakan sembilan liter atau sekitar Rp200 ribu. Upah operator diperkirakan sekitar Rp500 ribu.
Dua komponen itu berjumlah sekitar Rp700 ribu per hektare. Dari perbandingan tersebut, selisih biaya mencapai Rp2,3 juta per hektare. Perkiraan ini memberi kelompok tani gambaran tentang pengeluaran yang perlu mereka siapkan saat menggunakan mesin untuk memanen padi.
Perwakilan Kelompok Tani Mekar Sari, Ngadimo, mengatakan mesin tersebut akan sangat membantu petani. Ia menyampaikan terima kasih kepada BI serta jajaran Pemerintah Provinsi Bengkulu atas bantuan yang diterima kelompoknya.
“Bantuan ini sangat membantu kami. Kami mengucapkan terima kasih kepada Bank Indonesia, Bapak Gubernur, serta Wakil Gubernur Bapak Mian atas kepedulian terhadap petani padi,” tutur Ngadimo.
Pemprov Bengkulu dan BI Bengkulu menyerahkan mesin ini sebagai bagian dari dukungan terhadap swasembada pangan nasional. Mian mengatakan penguatan pertanian melalui teknologi diperlukan untuk membantu menjaga produktivitas padi. Ia juga mengingatkan pentingnya mengantisipasi dampak El Niño terhadap pertanian.
Penyerahan alat turut dihadiri Bupati Mukomuko Choirul Huda, Wakil Bupati Mukomuko Rahmadi AB, dan Sekretaris Daerah Kabupaten Mukomuko Marjohan. Hadir pula Kepala Bapperida Provinsi Bengkulu Yuliswani serta Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bengkulu Desman Siboro.
Bagi petani Mekar Sari, manfaat alat itu bisa dinilai dari satu ukuran sederhana saat panen berikutnya. Untuk lahan dengan luas yang sama, mereka dapat membandingkan berapa lama pekerjaan selesai dengan mesin dan berapa lama sebelumnya jika dikerjakan secara manual. Waktu pengerjaan tersebut juga bisa menjadi acuan untuk mengatur giliran penggunaan mesin di lahan anggota kelompok.










