Sebulan Jelang Ramadan, Gas Elpiji 3 Kg Langka dan Mahal di Empat Lawang, Mahasiswa Desak Pemkab Bertindak

- Jurnalis

Rabu, 18 Februari 2026 - 20:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kelangkaan gas elpiji 3 kg di Empat Lawang memicu lonjakan harga hingga Rp50 ribu. Mahasiswa mendesak Pemkab segera bertindak dan memperketat pengawasan distribusi demi melindungi masyarakat kecil.

Kelangkaan gas elpiji 3 kg di Empat Lawang memicu lonjakan harga hingga Rp50 ribu. Mahasiswa mendesak Pemkab segera bertindak dan memperketat pengawasan distribusi demi melindungi masyarakat kecil.

NARASIDEMOKRASI – Menjelang bulan suci Ramadan, masyarakat Kabupaten Empat Lawang justru dihadapkan pada persoalan mendasar yakni, kelangkaan gas elpiji 3 kg. Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, tabung gas bersubsidi itu sulit ditemukan. Kalaupun tersedia di tingkat pengecer, harganya melonjak tajam hingga Rp45 ribu sampai Rp50 ribu per tabung ini jauh di atas harga eceran yang semestinya.

Kondisi ini memantik keresahan luas, terutama di kalangan masyarakat ekonomi menengah ke bawah yang sangat bergantung pada elpiji 3 kg untuk kebutuhan memasak sehari-hari maupun menjalankan usaha kecil. Situasi tersebut dinilai bukan sekadar gejolak pasar biasa, melainkan cermin lemahnya pengawasan distribusi dan lambannya respons pemerintah daerah.

Aktivis mahasiswa asal Empat Lawang, Ade Kelpin, secara terbuka melayangkan kritik keras terhadap Pemerintah Kabupaten Empat Lawang. Ia menilai, hingga kini belum terlihat langkah konkret untuk menormalkan pasokan maupun mengendalikan harga di pasaran.

Baca Juga :  Wali Kota Dedy Wahyudi Ajak Warga Ramaikan Danau Dendam Trail Run 2025, Olahraga Sambil Nikmati Pesona Alam Bengkulu

“Kalaupun ada di pengecer, harganya sudah tidak masuk akal. Masyarakat kecil yang paling terdampak. Sampai sekarang belum ada tindakan nyata yang terlihat untuk menormalkan pasokan atau harga,” ujar Ade, ketika dimintai tanggapannya.

Menurutnya, kelangkaan gas elpiji 3 kg tidak lagi terjadi di satu atau dua kecamatan saja. Masalah ini sudah merata di hampir seluruh wilayah Empat Lawang. Karena itu, ia mendesak pemerintah daerah tidak bersikap pasif.

“Kami meminta pemerintah daerah segera turun tangan secara serius. Ini bukan persoalan sepele. Ini kebutuhan dasar masyarakat. Jangan sampai pemerintah terkesan abai,” tegasnya.

Kelangkaan gas elpiji 3 kg di Empat Lawang kini menjadi keresahan di tengah masyarakat. Warga mengeluhkan harus berkeliling dari satu pangkalan ke pangkalan lain demi mendapatkan satu tabung gas. Tak sedikit pula yang terpaksa membeli dengan harga tinggi karena tidak punya pilihan lain.

Kenaikan harga yang hampir dua kali lipat ini jelas memberatkan. Apalagi menjelang Ramadan, kebutuhan rumah tangga cenderung meningkat. Pelaku usaha kecil seperti penjual gorengan, warung makan, hingga pedagang kue tradisional ikut terdampak. Margin keuntungan mereka tergerus akibat lonjakan harga gas.

Baca Juga :  Pemkab Seluma Siap Luncurkan Sekolah Laboratorium Pancasila 28 Oktober

Ade Kelpin mempertanyakan mekanisme pengawasan distribusi yang seharusnya dilakukan secara rutin oleh instansi terkait. Ia menduga ada persoalan pada rantai distribusi, entah itu keterlambatan suplai, penimbunan, atau lemahnya pengendalian di tingkat pangkalan dan pengecer.

“Kalau distribusi berjalan normal, tidak mungkin terjadi kelangkaan selama berminggu-minggu. Pemerintah harus transparan menjelaskan di mana letak masalahnya. Jangan sampai masyarakat hanya disuruh bersabar tanpa kepastian,” ujarnya.

Mahasiswa juga menekankan bahwa gas elpiji 3 kg adalah barang bersubsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat kecil. Karena itu, pengawasannya tidak boleh longgar. Jika dibiarkan, bukan hanya harga yang melonjak, tetapi kepercayaan publik terhadap pemerintah pun ikut tergerus.

Penulis : Windi Junius

Editor : Redaksi

Berita Terkait

HMI Komisariat Dehasen Ultimatum 3×24 Jam, Tuntut Pencopotan Warek III
GMNI-HMI Minta LLDIKTI Copot Warek III Dehasen, Dugaan Kekerasan di Pemira Masuk Ranah Hukum
Polisi Periksa Saksi, Kasus Dugaan Penganiayaan Mahasiswa Masih Berjalan
Terbongkar! 90 Ton Pupuk Bersubsidi Diduga Disalurkan Tak Sesuai Aturan
PAW Ketua DPRD Bengkulu Masuk Tahap Administratif, Menunggu SK Mendagri
Perikanan Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Muna Barat
LBH KAHMI Desak Polisi Usut Dugaan Penganiayaan Mahasiswa oleh Wakil Rektor Unived
Bantuan Listrik 900 kWh Jadi Harapan Baru Warga Kepahiang
Berita ini 41 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 Maret 2026 - 20:01 WIB

HMI Komisariat Dehasen Ultimatum 3×24 Jam, Tuntut Pencopotan Warek III

Selasa, 3 Maret 2026 - 19:53 WIB

GMNI-HMI Minta LLDIKTI Copot Warek III Dehasen, Dugaan Kekerasan di Pemira Masuk Ranah Hukum

Senin, 2 Maret 2026 - 18:10 WIB

Polisi Periksa Saksi, Kasus Dugaan Penganiayaan Mahasiswa Masih Berjalan

Senin, 2 Maret 2026 - 17:51 WIB

Terbongkar! 90 Ton Pupuk Bersubsidi Diduga Disalurkan Tak Sesuai Aturan

Senin, 2 Maret 2026 - 02:25 WIB

Perikanan Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Muna Barat

Berita Terbaru

Artikel

Gelap Perang

Selasa, 3 Mar 2026 - 16:43 WIB