Diduga Pangkas Uang Pensiun, Eks Karyawan Soroti Kebijakan PT Riau Agrindo Agung

- Jurnalis

Selasa, 24 Februari 2026 - 11:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

NARASIDEMOKRASI – Polemik pembayaran uang pensiun mencuat di lingkungan PT Riau Agrindo Agung (RAA), perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Kabupaten Bengkulu Tengah. Sejumlah mantan karyawan menilai perusahaan tidak membayarkan hak pensiun sesuai ketentuan yang berlaku.

Salah satu mantan karyawan, Kaparallazi, warga Pematang Tiga, mengaku mengalami langsung dugaan ketidaksesuaian tersebut. Ia menyebut, hak pensiun yang diterimanya jauh di bawah perhitungan yang semestinya berdasarkan regulasi ketenagakerjaan.

“Ketentuan itu sudah jelas diatur dalam aturan perundang-undangan. Tapi yang saya terima tidak sesuai dengan hitungan yang seharusnya,” ujarnya.

Kaparal merujuk pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja serta Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2021 yang mengatur perjanjian kerja, waktu kerja, hingga pemutusan hubungan kerja. Dalam aturan tersebut, hak karyawan yang memasuki masa pensiun mencakup uang pesangon, uang penghargaan masa kerja, dan uang penggantian hak.

Baca Juga :  Ziarah Nasional HUT ke-80 TNI di Rejang Lebong, Bupati Fikri: Teladani Semangat Juang Pahlawan

Dengan masa kerja 16 tahun 5 bulan, Kaparal menghitung total hak pensiun yang seharusnya diterima mencapai Rp 72.664.725. Rinciannya terdiri dari uang pesangon Rp 52.282.125, uang penghargaan masa kerja Rp 19.917.000, serta penggantian sisa cuti tahunan Rp 465.600.

Namun pada 28 Januari 2026, ia mengaku hanya menerima transfer sebesar Rp 21.563.100 ke rekeningnya.

“Artinya ada kekurangan sekitar Rp 51 juta lebih. Jumlah itu bukan sedikit bagi kami yang sudah bekerja belasan tahun,” tegasnya.

Ia menyebut kondisi serupa juga dialami beberapa rekan kerjanya. Karena itu, persoalan ini tidak lagi dianggap sebagai kasus individual, melainkan diduga menyangkut kebijakan perusahaan secara umum.

Kaparal mengaku telah menemui General Manager PT RAA untuk meminta penjelasan. Namun dalam pertemuan tersebut, ia mengaku tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Baca Juga :  Sehari Tiga Aksi, Bupati Fikri dan Wabup Hendri Tunjukkan Kepemimpinan Cepat Tanggap di Rejang Lebong

“Saya hanya ingin penjelasan, kenapa nilainya berbeda jauh. Tapi sampai sekarang belum ada keterangan resmi yang saya terima,” katanya.

Meski kecewa, ia menegaskan masih mengedepankan langkah persuasif. Ia berharap perusahaan menunjukkan itikad baik dan melakukan klarifikasi terbuka.

“Kalau memang ada kekeliruan, kami berharap bisa diperbaiki. Kami masih menunggu niat baik perusahaan,” tambahnya.

Namun ia juga tidak menutup kemungkinan mengambil langkah lanjutan jika persoalan ini tidak mendapat respons.

“Kalau tidak ada penyelesaian, kami akan menempuh jalur resmi, termasuk melapor ke Dinas Tenaga Kerja,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen PT Riau Agrindo Agung melalui GM Wirianto belum memberikan tanggapan atas konfirmasi yang disampaikan melalui pesan WhatsApp.

Kasus ini pun menjadi perhatian publik, terutama menyangkut kepastian perlindungan hak-hak pekerja di sektor perkebunan.

Berita Terkait

HMI Komisariat Dehasen Ultimatum 3×24 Jam, Tuntut Pencopotan Warek III
GMNI-HMI Minta LLDIKTI Copot Warek III Dehasen, Dugaan Kekerasan di Pemira Masuk Ranah Hukum
Polisi Periksa Saksi, Kasus Dugaan Penganiayaan Mahasiswa Masih Berjalan
Terbongkar! 90 Ton Pupuk Bersubsidi Diduga Disalurkan Tak Sesuai Aturan
PAW Ketua DPRD Bengkulu Masuk Tahap Administratif, Menunggu SK Mendagri
Perikanan Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Muna Barat
LBH KAHMI Desak Polisi Usut Dugaan Penganiayaan Mahasiswa oleh Wakil Rektor Unived
Bantuan Listrik 900 kWh Jadi Harapan Baru Warga Kepahiang
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 Maret 2026 - 20:01 WIB

HMI Komisariat Dehasen Ultimatum 3×24 Jam, Tuntut Pencopotan Warek III

Selasa, 3 Maret 2026 - 19:53 WIB

GMNI-HMI Minta LLDIKTI Copot Warek III Dehasen, Dugaan Kekerasan di Pemira Masuk Ranah Hukum

Senin, 2 Maret 2026 - 18:10 WIB

Polisi Periksa Saksi, Kasus Dugaan Penganiayaan Mahasiswa Masih Berjalan

Senin, 2 Maret 2026 - 17:51 WIB

Terbongkar! 90 Ton Pupuk Bersubsidi Diduga Disalurkan Tak Sesuai Aturan

Senin, 2 Maret 2026 - 02:25 WIB

Perikanan Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Muna Barat

Berita Terbaru

Artikel

Gelap Perang

Selasa, 3 Mar 2026 - 16:43 WIB